![]() |
| Wakil Bupati Berau, Gamalis, menghadiri sekaligus membuka kegiatan Plastic Smart Islands. (Foto:prokopim) |
Kegiatan yang diinisiasi oleh WWF tersebut menjadi wadah kolaborasi dan pertukaran pengetahuan antara Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Thailand dalam upaya pengendalian sampah plastik, khususnya di wilayah pesisir dan kepulauan.
Program Plastic Smart Islands mendorong penerapan pengelolaan sampah terpadu berbasis prinsip reduce, reuse, recycle (3R) sebagai solusi untuk mengurangi peningkatan sampah plastik yang berdampak terhadap lingkungan dan ekosistem laut.
Dalam sambutannya, Gamalis menegaskan bahwa persoalan sampah plastik saat ini menjadi tantangan serius yang membutuhkan keterlibatan seluruh pihak melalui langkah nyata dan berkelanjutan.
Menurutnya, penanganan sampah tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan memerlukan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, hingga komunitas lingkungan agar pengelolaan sampah dapat berjalan optimal.
“Persoalan sampah plastik harus menjadi perhatian bersama. Diperlukan kesadaran dan kerja sama semua pihak untuk mendorong pengurangan sampah melalui pola pengelolaan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan,” ujarnya.
Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup tahun 2024, timbunan sampah di Kabupaten Berau mencapai sekitar 54 ribu ton per tahun.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 67,67 persen sampah telah terkelola, sedangkan 32,33 persen lainnya masih belum tertangani secara optimal.
Pemerintah Kabupaten Berau berharap melalui kegiatan ini dapat lahir berbagai inovasi dan kerja sama lintas negara dalam pengendalian sampah plastik, khususnya di kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil yang rentan terhadap pencemaran lingkungan. (prokopim)
.jpeg)