![]() |
| Melantik dan melukuhan DPD ICDN Kabupaten Sintang periode 2025–2030. (Foto:tim) |
Seminar ini menghadirkan tiga narasumber, yakni Dr. Antonius, S.Hut., M.P selaku Rektor Universitas Kapuas (Unka) Sintang, Herpanus, S.P., M.A., Ph.D sebagai Wakil Ketua Bidang Nonakademik STKIP Persada Khatulistiwa Sintang, serta RD Leonardus Miau selaku Vikaris Jenderal Keuskupan Sintang. Kegiatan dipandu oleh Michelle Eko Hardian sebagai moderator.
Dalam pemaparannya yang berjudul Revolusi Intelektual Dayak di Era Globalisasi dan Teknologi, Antonius menekankan pentingnya intelektual Dayak memiliki prinsip yang kuat serta kemampuan berpikir logis berbasis data dan ilmu pengetahuan.
“Kita harus mampu membaca fakta di lapangan dan mengedepankan sains serta teknologi. Intelektual Dayak harus beranjak dari penjaga tradisi menjadi pengambil kebijakan berbasis data, ilmu pengetahuan, dan teknologi, untuk membuktikan bahwa kita mampu,” ujarnya.
Ia juga mendorong ICDN Sintang untuk berperan aktif membantu pemerintah daerah melalui kajian-kajian strategis, khususnya dalam menekan angka kemiskinan.
“Tidak layak jika Sintang yang kaya sumber daya alam masih memiliki masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan. Kita juga menghadapi ancaman serius seperti narkoba dan pergaulan bebas yang menggerus generasi muda Dayak,” tambahnya.
Sementara itu, Herpanus dalam materinya tentang Peran Intelektual Dayak dalam Perubahan Sosial menyampaikan bahwa revolusi intelektual harus dimaknai sebagai upaya revitalisasi nilai-nilai budaya Dayak. Hal tersebut meliputi kedaulatan pengetahuan, pendidikan yang berakar pada budaya lokal, advokasi, serta perlindungan ruang hidup masyarakat adat.
Di sisi lain, RD Leonardus Miau mengangkat tema Nilai-Nilai Luhur Dayak dan Injil: Fondasi Revolusi Mental Orang Dayak. Ia menekankan pentingnya kesadaran identitas diri sebagai dasar menjaga nilai budaya.
“Saya mendorong agar orang Dayak melakukan revolusi mental dengan mengubah pola pikir, sikap, dan tindakan ke arah nilai-nilai positif. Kita harus mengutamakan integritas, etos kerja, dan gotong royong,” ungkapnya.
Ia juga menambahkan bahwa nilai budaya Dayak perlu terus dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari dan diperkuat dengan iman Kristiani.
“Kita harus berubah menjadi lebih baik agar tidak menjadi ‘kuli di tanah sendiri’. Gereja Katolik mendukung perkembangan budaya Dayak, terlihat dari adanya inkulturasi antara budaya Dayak dan kehidupan gereja,” jelasnya.
Seminar ini menjadi momentum penting bagi ICDN Kabupaten Sintang dalam merumuskan langkah strategis untuk memperkuat peran intelektual Dayak dalam pembangunan daerah berbasis nilai budaya, ilmu pengetahuan, dan spiritualitas. (tim)
