Warga Ancam Gembok Pagar PKS PT. WKN Jika Tuntutan tidak Terpenuhi

Editor: Asmuni
Sebarkan:

Ratusan petani sawit mandiri warga kecamatan Seluas, kabupaten Bengkayang, saat  mendatangi Kantor Perkebunan kelapa sawit PT Wawasan Kebun Nusantara (WKN)
Bengkayang Kalbar, Suaraborneo.id - Ratusan petani sawit mandiri warga kecamatan Seluas, kabupaten Bengkayang, mendatangi Kantor Perkebunan kelapa sawit PT Wawasan Kebun Nusantara (WKN) Guna mendapatkan kepastian terhadap kebijakan perusahaan yang di anggap tidak transparan dan merugikan masyarakat Petani. Sabtu (2/7/2022). 

Kegiatan aksi demo damai ini di kawal oleh pihak aparat kepolisian Polsek seluas serta TNI. Setelah menyampaikan orasi, perwakilan aksi langsung di terima oleh pihak manajemen PT. WKN untuk melakukan dialog serta menyampaikan hal yang menjadi tuntutan.

Ada pun point persoalan yang di sampaikan saat aksi damai yakni: 

1.Harga Tandan Buah Segar (TBS) tidak berimbang dengan pabrik lain. 

2.Potongan TBS sangat tinggi. 

3.Naik turunya harga TBS tidak seimbang/tidak masuk akal. 

4.Banyak plasma masyarakat tidak jelas lokasinya. 

5.Sebelum selesai permasalahan yang sampaikan perusahaan tidak boleh beraktivitas.

Berdasarkan informasi yang di himpun oleh media ini apa yang menjadi point persoalan yang di sampaikan saat demo, pihak PT Wawasan Kebun Nusantara tidak bisa mengambil keputusan, sehingga aksi demo berujung pada penutupan akses menuju ke Pabrik Kelapa Sawit (PKS) dan di tutup hingga tuntutan di penuhi oleh pihak Manajemen PT. Wawasan Kebun Nusantara.

Martinus Kajot, selaku perwakilan masyarakat petani saat di wawancara  media ini menjelaskan bahwa tuntutan dari pihaknya tidak banyak. 

"Tuntutan kita hari ini menuntut kepada pihak perusahaan harus sama seperti yang perusahaan lain. Kalau potongan 5 persen perusahaan yang lain. Jangan pula mereka lebih dari 5 persen (PT WKN red). Ini sangat merugikan petani. Mereka memang membeli TBS dengan harga Rp1.600 per kilogram, namun potongan lebih besar, itu yang menjadi permasalahan dan sanggat merugikan petani," jelasnya.

"Keputusan sepihak ini jelas kami tidak terima, Perusahaan lain 5 persen semua,Ternyata mereka sampai 17 persen bahkan sampai 20 persen mereka melakukan pemotongan atas buah dari para petani," timpalnya. 

Martinus Kajot menegaskan, kalau dalam waktu kedepan pihak manajemen tidak memberikan kepastian atas apa yang kami sampaikan, terpaksa semua kagiatan kami tutup. Bagi masyarakat buah tidak terjual tidak masalah dan yang rugi besarkan mereka, sebab mereka mencari untung tanpa memikirkan efeknya," tegas Kajot. 

"Harapan kami sebenarnya terhadap poin ke 5 tuntutan tidak harus sepenuhnya di penuhi oleh pihak perusahaan. Yang pertama harus di selesaikan adalah mengenai masalah persentase potongan tadi, barulah menyelesaikan yang lain, sebab setiap hari kita menjual TBS tentunya di pilih dan mana yang bagus di ambil. Namun kenapa masih ada pemotongan. Ini tentunya akan berpengaruh terhadap hasil kami sebagai petani," pungkasnya.(Injil/rinto)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini