![]() |
| Peluncurkan buku Dayak-Melayu: Satu Darah, Dua Dunia di Rumah Melayu Pontianak, Rabu (28/10/2026) _ [adpim] |
Dalam sambutannya, Krisantus mengapresiasi terbitnya buku yang mengkaji hubungan Dayak dan Melayu melalui berbagai perspektif keilmuan, mulai dari sejarah, antropologi, linguistik, sosiologi, studi agama, politik, sastra, hingga ekologi.
Menurutnya, buku tersebut penting untuk memperluas pemahaman masyarakat mengenai akar sejarah dan kedekatan budaya Dayak dan Melayu yang terjalin melalui interaksi sosial, bahasa, tradisi, serta nilai-nilai yang diwariskan lintas generasi.
“Sudah lama saya menantikan adanya buku kajian akademis, baik secara sosiologis, antropologis, maupun historis, yang menunjukkan bahwa asal-usul kita memiliki kesamaan. Perbedaan yang ada terkadang lebih disebabkan oleh persepsi dan cara kita melihat identitas masing-masing,” ujar Krisantus.
Ia menjelaskan, kedekatan Dayak dan Melayu dapat dilihat dari perjalanan sejarah dan hubungan sosial yang panjang. Perbedaan pola permukiman maupun perkembangan identitas budaya dan agama tidak semestinya menjadi alasan untuk membangun sekat di antara keduanya.
“Kalau kita pelajari sejarahnya, Dayak dan Melayu memiliki kedekatan yang sangat kuat. Dalam perjalanan sejarah, sebagian masyarakat Dayak juga kemudian mengidentifikasi diri sebagai Melayu setelah memeluk agama Islam. Karena itu, pesan ‘Satu Darah’ dalam buku ini sangat relevan untuk mengingatkan kita tentang persaudaraan,” jelasnya.
Krisantus menegaskan, buku ini bukan sekadar kumpulan tulisan akademis, melainkan sarana refleksi untuk memahami identitas bersama dan memperkuat persaudaraan masyarakat Kalimantan Barat. Keberagaman, menurutnya, harus menjadi kekuatan yang menyatukan, bukan menciptakan jarak.
“Buku ini bukan hanya sekadar tulisan, melainkan cermin yang memantulkan jati diri kita bersama. Dayak dan Melayu bukanlah dua dunia yang sepenuhnya terpisah, tetapi memiliki ikatan sejarah dan persaudaraan yang kuat. Akarnya sama, ibarat daun pada satu tanaman, bentuknya bisa berbeda, tetapi tetap tumbuh dari akar yang sama,” ungkapnya.
Buku Dayak-Melayu: Satu Darah, Dua Dunia mengajak pembaca menelusuri akar sejarah hubungan kedua masyarakat, memahami dinamika pembentukan identitas, serta melihat peran kearifan lokal dalam menjaga harmoni di tengah keberagaman. Pembahasannya mencakup mitologi, ritual, pantun, kuliner, ruang sosial, demokrasi lokal, hingga pelestarian lingkungan sebagai bagian dari kekayaan peradaban Borneo.
Sebagai putra Dayak sekaligus Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus memandang karya ini sebagai kontribusi penting dalam membangun kesadaran kolektif masyarakat. Ia berharap generasi muda semakin mengenal sejarah dan budaya lokal serta menjadikannya landasan untuk merawat persaudaraan, menjaga lingkungan, dan melestarikan nilai-nilai luhur warisan leluhur.
Ia juga mendorong kalangan akademisi untuk terus mengembangkan penelitian kebudayaan lokal dan menghadirkan hasil kajian yang bermanfaat bagi masyarakat serta pembangunan daerah.
“Saya berharap akademisi di Kalimantan Barat terus menggali akar budaya lokal, menyalakan dialog lintas etnis, dan memberikan masukan konkret bagi kebijakan daerah. Ilmu jangan hanya berhenti di ruang kelas, tetapi harus hadir sebagai solusi nyata bagi masyarakat. Mari jadikan akademisi sebagai motor pembaruan yang menanamkan nilai toleransi dan cinta tanah air kepada generasi muda,” pesannya.
Mengakhiri sambutannya, Krisantus mengajak masyarakat membaca buku tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat persatuan, sejalan dengan semangat Sumpah Pemuda yang diperingati setiap 28 Oktober.
“Sejalan dengan semangat Sumpah Pemuda, ketika para pemuda berikrar untuk bertumpah darah yang satu, berbangsa yang satu, dan menjunjung bahasa persatuan, kita di Kalimantan Barat juga harus memperkuat ikrar persaudaraan. Dayak dan Melayu adalah bagian dari satu keluarga besar yang harus terus menjaga persatuan dan membangun Kalimantan Barat bersama-sama,” pungkasnya.
Buku ini ditulis secara kolaboratif oleh 18 penulis, yakni Chairil Effendy, Hermansyah, Muriadi Arip, Paulus Ajong, Syafaruddin Usman, Alexander Mering, Albertus Imas, Ahmad Rabi’ul Muzammil, Samsul Hidayat, Dedy Ari Asfar, Urai Muhani, M. Rustam, Sri Sukarni, Gusti Hardiansyah, Syamsul Kurniawan, Jumadi, Syahdin L. Nyarong, dan Stefanus Barlian Soeryamassoeka.
Agenda tersebut turut dihadiri Ketua Umum Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Provinsi Kalimantan Barat, Prof. Dr. Chairil Effendy, M.S.; Gubernur Kalimantan Barat Periode 2018–2023, H. Sutarmidji, S.H., M.Hum.; Rektor Universitas Tanjungpura, Prof. Dr. Garuda Wiko, S.H., M.Si.; serta tokoh adat Melayu dan Dayak.
Peluncuran buku ini diharapkan memperkaya khazanah pengetahuan tentang sejarah dan kebudayaan lokal sekaligus memperkuat komitmen masyarakat untuk merawat kerukunan, menghargai perbedaan, dan membangun Kalimantan Barat yang harmonis. (r/*)
