![]() |
| G-Talks (Gemawan Team Agenda Learning and Knowledge Sharing). Dengan mengusung tema “Menanam Narasi, Menuai Perubahan". Diskusi ini digelar di Rumah Gesit Borneo pada Kamis (05/02/2026). |
Pontianak, suaraborneo - Berada di tengah arus informasi yang seringkali meminggirkan peran perempuan dalam isu-isu strategis, Gemawan adakan ruang refleksi mendalam melalui G-Talks (Gemawan Team Agenda Learning and Knowledge Sharing). Dengan mengusung tema “Menanam Narasi, Menuai Perubahan: Menguatkan Cerita Perempuan dan Pengelolaan Sumber daya Alam”. diskusi ini digelar di Rumah Gesit Borneo pada Kamis (05/02/2026) sebagai upaya membongkar stigma sekaligus membangun informasi yang lebih adil dan transformatif.
Agenda tersebut mempertemukan berbagai elemen masyarakat sipil dari Civil Society Organization (CSO), Non Governmental Organization (NGO), Komunitas akar rumput, serta jurnalis. dengan satu fokus utama, yaitu merebut kembali ruang publik melalui narasi yang selama ini didominasi oleh sudut pandang patriarki dan eksploitatif.
Bukan Sekadar Diskusi, Tapi Menyuarakan Isu Keadilan Strategis
Direktur Gemawan, Laily Khainur, dalam sambutannya menegaskan bahwa G-Talks bukan hanya sekadar agenda rutin, melainkan salah satu upaya untuk menyuarakan apa yang selama ini dibungkam oleh sistem. Menurutnya, apabila bicara perihal gender dalam pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) adalah bicara tentang keadilan yang mendasar.
“G-Talks kali ini adalah cara kita secara bersama-sama menyuarakan apa yang selama ini belum bersuara. bicara gender, artinya kita bicara isu keadilan. Gender bukan hanya tentang perempuan, tetapi juga tentang laki-laki dan seluruh tatanan sosial di dalamnya.” ungkap Laily.
Ia menekankan bahwa ada banyak cerita perjuangan untuk bertahan dan bertumbuh di tingkat tapak yang jarang mendapat perhatian dan panggung.
“Kita ingin mengangkat cerita-cerita itu. cerita tentang ketangguhan yang seringkali dianggap biasa saja, padahal itu adalah bentuk perlawanan.” tegasnya.
Administrasi menjadi Sekat yang Membatasi Hak Perempuan
Diskusi semakin kritis ketika memasuki ranah yang lebih struktural. Arniyanti. pegiat Gemawan yang menjadi salah satu pembicara, menyoroti betapa administrasi negara seringkali menjadi alat penindasan yang cukup halus bagi perempuan yang mengelola alam mereka.
“Dalam catatan administrasi, banyak perempuan yang hanya ditulis sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT) dalam Kartu Tanda Penduduknya (KTP), padahal dalam realitanya mereka adalah petani yang menggarap tanah setiap hari. Ada masalah struktural yang serius ketika kita bicara tentang SDA namun abai terhadap pengakuan identitas ini.” ujar Arni.
Ia mengajak peserta membayangkan dampak dari labeling tersebut, bagaimana perempuan kehilangan haknya untuk mengakses skema pengelolaan tanah hingga bantuan pertanian hanya karena profesinya yang dianggap tidak ada dalam kolom Kartu Tanda Penduduk (KTP).
Putri Lestari, dari Keep Earth Borneo (KEB) yang juga menjadi pembicara turut menambahkan bahwa hambatan administrasi ini tentu dapat berujung pada terbatasnya akses ruang dan gerak perempuan dalam pengambilan keputusan.
“Karena akses pelatihan seringkali mensyaratkan status pekerjaan tertentu, perempuan pada akhirnya terpinggirkan. Lelaki kemudian menjadi lebih dominan dalam keputusan-keputusan strategis terkait Sumber Daya Alam, sementara perempuan yang bersentuhan langsung dengan tanah justru tidak dilibatkan” jelas Putri.
Bagaimana Narasi Sebagai Senjata Perlawanan
Dari perspektif komunikasi, Siti Sulbiyah dari Jurnalis Perempuan Khatulistiwa (JPK) memaparkan bahwa cara kita menceritakan sebuah isu menentukan hasil dari advokasi kedepannya. Ia dengan tegas mengkritik pola pemberitaan Sumber Daya Alam (SDA) dan perempuan selama ini cenderung menjual “Kesedihan” tanpa memberikan solusi atau harapan.
“Isu Sumber Daya Alam dan perempuan seringkali hanya mengangkat sisi kesedihannya saja, padahal dibalik bencana alam, hingga konflik lahan.ada banyak cerita yang menarik dan menginspirasi. narasi yang menggerakan bisa coba kita tuliskan” ujar Siti
Siti percaya bahwa penulisan narasi mampu menjadi diseminasi informasi yang kuat, bahkan mampu menekan kebijakan yang merusak.
“Narasi yang jujur dan berpihak bisa menjadi kekuatan untuk menghentikan izin-izin eksploitasi yang serampangan” tegasnya.
Refleksi mengenai narasi sebagai senjata ini divalidasi oleh Jiro, salah satu peserta dari komunitas akar rumput di Pontianak. Ia melihat bahwa perlawanan tidak harus secara besar karena kecil juga termasuk bentuk perlawanan. “Narasi perempuan soal kemenangan-kemenangan kecil seperti keberhasilan mempertahankan kebun kolektif milik mereka juga merupakan bentuk perlawanan yang sangat berdampak, dan membuktikan bahwa mereka memiliki kedaulatan atas hidupnya sendiri” Tanggap Jiro.
Gerakan Kolektif Lintas Generasi untuk Mendobrak Tembok Ketimpangan sistem
Menutup diskusi interaktif tersebut, Laily Khainur kembali menegaskan bahwa musuh utama yang dihadapi saat ini adalah sistem yang menindas dan budaya patriarki yang telah mengakar. Solusinya, menurut Laily adalah dengan membangun kedaulatan melalui gerakan kolektif yang melibatkan orang muda.
“Cara berpikir kita yang harus keluar dari kotak (Out Of the Box). Orang muda harus mengambil peran, mencari pengalaman dan membawa perlawanan sebagai bentuk seni dan kreativitas ke dalam isu-isu lingkungan”. Pungkas Laily.
Kegiatan G-Talks ini diharapkan menjadi pemantik bagi para pegiat dan jurnalis untuk memulai memproduksi konten-konten yang lebih sensitif gender dan berpihak kepada keberlanjutan lingkungan. Gemawan berkomitmen untuk berusaha terus menyediakan ruang kolaborasi bagi siapapun yang ingin bersinergi dalam menyuarakan kesetaraan.(*/r,)
