CPJ: Pemenjaraan Jurnalis Capai Rekor Baru pada 2021

Sebarkan:

Jurnalis Jepang Yuki Kitazumi mengangkat tangannya saat dikawal oleh polisi setibanya di kantor polisi Myaynigone di Sanchaung,Yangon, Myanmar, 26 Februari 2021. Kitazumi kembali ke Jepang pada 14 Mei 2021 setelah dibebaskan. (AP)
Jumlah jurnalis yang dipenjara di seluruh dunia mencapai rekor baru pada 2021, kata Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ), Kamis (9/12).

Organisasi yang berbasis di New York itu mengungkapkan, China dan Myanmar merupakan negara yang paling banyak memenjarakan jurnalis. Seperempat dari 293 pekerja media yang kini berada di balik jeruji besi berdomisili di kedua negara itu.

Dalam laporan tahunannya, CPJ menyebutkan bahwa 50 jurnalis yang dipenjara di China, 26 di Burma, 25 di Mesir, 23 di Vietnam dan 19 di Belarus.

Dengan menambahkan jumlah mereka yang dipenjara di Arab Saudi, Iran, Turki, Rusia, Ethiopia dan Eritrea, CPJ mengatakan ada 293 wartawan yang dipenjarakan di seluruh dunia hingga 1 Desember tahun ini, naik dari 280 pada tahun sebelumnya.

"Ini adalah tahun keenam berturut-turut CPJ mendokumentasikan rekor jumlah jurnalis yang dipenjara di seluruh dunia," kata Joel Simon, direktur eksekutif kelompok tersebut.

"Memenjarakan wartawan karena melaporkan berita adalah ciri rezim otoriter," katanya dalam sebuah pernyataan.

Selama 40 tahun, CPJ mengecam jurnalis yang dibunuh, dipenjara, disensor, disakiti secara fisik dan diancam.

"Sungguh memprihatinkan bahwa banyak negara masuk dalam daftar itu setiap tahunnya, dan khususnya sangat mengerikan bahwa Myanmar dan Ethiopia telah secara brutal menutup pintu kebebasan pers," katanya.

Asosiasi itu juga menghitung, ada 24 jurnalis tewas di seluruh dunia pada tahun ini.

Meksiko "masih menjadi negara paling mematikan bagi jurnalis di belahan bumi Barat, dengan tiga orang dibunuh karena liputan mereka dan motif enam pembunuhan lainnya sedang diselidiki," kata CPJ.

India juga masuk dalam daftar teratas, dengan empat jurnalis tewas tahun ini.

CPJ mengatakan jumlah wartawan di balik jeruji mencerminkan "meningkatnya intoleransi terhadap pelaporan independen di seluruh dunia."

Laporan tersebut mencatat situasi yang membatasi pekerjaan jurnalis di seluruh dunia, termasuk undang-undang yang digunakan untuk menarget wartawan di Hong Kong dan Xinjiang, kudeta di Myanmar, perang di Ethiopia utara dan tindakan keras terhadap oposisi di Belarus. [ab/lt]

Sumber : VOA

 

 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini