Menteri Vaksin Inggris Imbau Kewaspadaan soal Pembukaan Kembali Wilayah

Sebarkan:

Warga Inggris menikmati suasana dengan makan di sebuah restoran di South Bank, saat pemerintah melonggarkan pembatasan COVID-19 di London (foto: dok).

Menteri vaksin COVID-19 Inggris, Jumat (11/6) mengimbau agar waspada mengenai rencana pembukaan kembali negara itu akhir bulan ini. Ia berbicara pada hari ketika jumlah kasus baru melonjak di negara itu — 90 persen di antaranya adalah varian Delta yang sangat menular.

Menurut Peta Jalan COVID-19 yang ditetapkan oleh pemerintah Perdana Menteri Boris Johnson, semua pembatasan terkait pandemi dijadwalkan akan dicabut 21 Juni, satu minggu dari Senin.

Namun dalam sebuah wawancara, Jumat, menteri vaksin COVID-19 Inggris, Nadhim Zahawi, mengatakan kepada Times Radio bahwa Inggris harus sangat berhati-hati mengenai pembukaan wilayahnya mengingat dominasi varian Delta, yang awalnya diidentifikasi di India.

Komentarnya disampaikan ketika pemerintah melaporkan 8.125 kasus COVID-19 baru, total harian tertinggi sejak Februari, dan tingkat penularan harian juga lebih tinggi. Zahawi mengatakan pemerintah harus memeriksa data dari akhir pekan mendatang dengan sangat hati-hati dan memberitahukannya kepada bangsa untuk kemudian memutuskan mengenai pembukaan kembali.

Sementara itu, Chicago, Jumat menjadi kota terbesar di AS yang dibuka kembali sepenuhnya. Selama konferensi pers yang secara resmi mengumumkan pembukaan kembali itu, Walikota Lori Lightfoot mengatakan kepada wartawan bahwa selama lebih dari setahun, penduduk Chicago telah menderita begitu banyak, tetapi mereka setiap kali sudah melakukan tugasnya.

“Mengenakan masker, melakukan vaksinasi, dan sekarang saatnya kita bangkit, keluar dari rumah musim panas ini dan menikmati acara kota terbaik di planet ini, kota kita tercinta Chicago,” kata Lightfoot.

Sebelumnya Jumat, para pemimpin dari negara-negara G-7 mengumumkan bahwa mereka akan menyumbangkan satu miliar dosis vaksin COVID-19 ke negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. AS

AS akan menyumbangkan 500 juta vaksin sementara Inggris menyumbangkan 100 juta dosis vaksin. [my/pp]

Sumber : VOA

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini