Hadiri Peresmian 4 Rumah Gizi, ini Kata Plt. Dinkes PP dan KB

Editor: Redaksi
Peresmian rumah gizi 
SEKADAU, suaraborneo.id - Plt. Kepala Dinas Kesehatan PP dan KB Kabupaten Sekadau, Henry Alpius menghadiri peresmian 4 Rumah gizi secara simbolis yang dipusatkan di Desa Sebetung. 4 post gizi tersebut yakni, Desa tersebut adalah desa Balai sepuak, desa Sebetung, desa Terduk Dampak dan desa Mengaret. 

Plt. Kepala Dinas Kesehatan PP dan KB Kabupaten Sekadau, Henry Alpius mengatakan, Pembangunan Pos gizi di Kabupaten Sekadau bertujuan untuk upacaya percepatan penurunan stanting dengan pelibatan masyarakat melalui kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat yang dibantu oleh bidan desa dan dibina oleh puskesmas setempat, sehingga nantinya kedepan pos gizi ini bisa dilaksanakan sebagai proyek inovasi desa maupun proyek inovasi puskesmas. 

"Kadernya nanti diberi pelatihan. Pos gizi dibangun dengan tujuan untuk peningkatan derajat gizi dan penurunan stanting berbasis masyarakat yang memiliki beberapa cakupan kegiatan diantaranya penimbangan anak bayi balita pendidikan kesehatan bagi kader posyandu dan pola asuh," jelas Henry. 

Menurutnya, ini merupakan salah satu program yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Sekadau dalam rangka penurunan angka stanting adalah melalui pembangunan pos gizi. 

Lebih jauh dikatakan Henry, rencana strategis Dinkes PP dan KB Kabupaten Sekadau meliputi penurunan angka stunting, penurunan angka kematian ibu dan bayi, peningkatan suplemen epideomologi dan deteksi dini penyakit serta peningkatan penanggulangan luar biasa akibat wabah 
kemudian peningkatan cakupan imunisasi dan peningkatan managemen mutu bauk kualitas maupun kuantitas bagi tenaga kesehatan serta pengktan akses dan mutu pelayanan kesehatan dasar dan lanjutan. 

Dijelaskan Henry, stunting yang kita kenal anak yang bertubuh kerdil merupakan suatu indikasi kurangnya asupan gizi baik secara kuantitas maupun secara kualitas yang tidak terpenuhi sejak bayi bahkan sejak masa dalam kandungan. Dampak dari pada anak stanting adalah pertumbuhan atau perkembangannya terhambat, penurunan fungsi otak dan penurunan kekebalan tubuh sehingga anak akan mudah sakit kemudian kalau sudah dewasa akan terjadi penyakit yang sifatnya generatif. Stunting merupakan masalah kesehatan yang dihadapi oleh bangsa indonesia. Di indonesia hasil penelitian dibidang kesehatan bahwa 30,8 persen, anak indonesia masih stunting. 

"Artinya, setiap 3 anak di indonesia pasti ada 1 diantaranya yang stunting. Masih diambang batas yang disarankan WHO yaitu 20 persen," jelasnya. 

Henry menerangkan, untuk Kalimantan Barat balita stunting berkisar anatara 36 persen. Untuk Kabupaten Sekadau tahun 2013 angka stunting 44 persen, kemudian tahun 2017, 39, 2 persen, tahun 2018, 32 persen dan tahun 2019 30,9 persen, berarti ada penuruan angka stunting di Kabupaten Sekadau. 

"Namun ini merupakan suatu tantangan bagi dinas kesehatan Kabupaten Sekadau, maka langkah strategis yang dilakukan oleh dinas kesehatan adalah perbaikan gizi bagi anak stunting," kata Henry. (hms) 
Share:
Komentar

Berita Terkini