-->

Sharing Session PFI Pontianak “Di Balik Lensa Bencana Alam”, Tenteng Kamera Kemana pun Pergi

Editor: Redaksi
Sebarkan:

Willy Kurniawan, pewarta foto dari kantor berita internasional bersama Jessica Wuysang, pewarta foto Kantor Berita Nasional Antara Biro Kalbar memberikan Sharing Session “Di Balik Lensa Bencana Alam" _ [istimewa]
PONTIANAK,suaraborneo -   Pewarta Foto Indonesia (PFI) Pontianak menggelar sharing session bertajuk “Di Balik Lensa Bencana Alam” di  Pontianak pada Selasa, 1 September 2026 lalu.


Kegiatan tersebut menghadirkan Willy Kurniawan, pewarta foto dari kantor berita internasional sebagai narasumber. Dalam kesempatan itu, Willy membagikan pengalaman selama menjalankan tugas jurnalistik, termasuk saat meliput proses evakuasi orangutan yang terdampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.


Sebagai pewarta foto berpengalaman, Willy menyebut kamera merupakan “senjata utama” bagi seorang pewarta foto. Karena momentum tidak selalu dapat diprediksi, ia mengaku terbiasa membawa kamera ke mana pun pergi.


“Saya selalu membawa kamera ke mana-mana karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi, bahkan ketika ke toilet sekalipun. Kita tidak pernah tahu, bisa saja terjadi gempa saat sedang di toilet,” kata Willy.


Dalam perjalanan menuju Kabupaten Ketapang, Willy menyempatkan diri mendokumentasikan sejumlah aktivitas di Bandara Internasional Supadio Pontianak. Setibanya di Ketapang, ia kemudian fokus pada isu karhutla yang melanda wilayah tersebut.


Ketapang menjadi salah satu wilayah yang menjadi perhatian dalam penanganan karhutla di Kalimantan Barat. Dalam peliputannya, Willy mengabadikan berbagai kondisi di lapangan, mulai dari lahan yang terbakar, aktivitas petani sawit, orangutan yang terdampak, hingga upaya pemadaman kebakaran.


Ia juga menjelaskan bahwa peliputan yang berkaitan dengan orangutan memiliki prosedur khusus. Sebelum menuju lokasi, setiap pihak yang hendak melakukan kegiatan terkait satwa tersebut harus terlebih dahulu mengurus perizinan kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat.


Menurut Willy, keselamatan diri merupakan aspek paling penting bagi pewarta foto maupun jurnalis ketika berada di lokasi berbahaya. Jurnalis datang ke lapangan untuk melihat secara langsung situasi yang terjadi dan menyampaikannya kepada publik. Karena itu, menurutnya, diperlukan pelatihan khusus untuk menghadapi berbagai kondisi berisiko, mulai dari demonstrasi, kebakaran hutan, konflik, kerusuhan, hingga bencana alam.


“Safety kita sendiri itu penting dalam peliputan. Untuk meliput tempat-tempat yang mengandung bahaya, seperti liputan demo, kebakaran hutan, konflik, kerusuhan, bencana alam, apa pun yang mengundang bahaya itu harus ada pelatihan dulu,” ujarnya.


Ketua PFI Pontianak, Jessica Wuysang, yang juga merupakan pewarta foto Kantor Berita Nasional Antara Biro Kalbar, turut membagikan pengalamannya dalam melakukan peliputan, khususnya ketika terjadi bencana alam.


Jessica mengatakan, dalam kondisi tertentu, jurnalis yang turun ke lapangan harus siap menghadapi berbagai risiko. Ia bahkan bercerita pernah menandatangani surat pernyataan kesiapan menghadapi risiko dalam menjalankan tugas peliputan foto udara.


Sebagai bagian dari kantor berita nasional, Jessica juga memiliki tanggung jawab untuk mengirimkan materi foto liputan dari wilayah Kalbar ke kantor pusat.


“Wartawan pasti kalau dapat info, kita datang ke lokasi, baik itu wartawan foto, TV, cetak, online. Apalagi kalau kita biro daerah, kita pasti akan kirim ke pusat (nasional),” ungkap Jessica.


Lebih lanjut, Jessica menjelaskan bahwa pewarta foto harus mengetahui terlebih dahulu apa yang hendak diliput dan kondisi seperti apa yang terjadi di lapangan. Selain itu, pewarta foto juga harus mempersiapkan kesehatan berada dalam kondisi yang optimal ketika turun lapangan.


“Contohnya seperti meliput kebakaran lahan. Pewarta foto harus menyiapkan masker, kaca mata, dan sepatu boots yang akan digunakan selama meliput,” tuturnya.


Terkait menentukan momentum yang tepat dalam menghasilkan sebuah foto, Jessica mengatakan tidak ada metode baku yang dapat menjamin seorang pewarta foto akan mendapatkan gambar terbaik.


Menurutnya, kemampuan membaca momentum terbentuk melalui proses dan pengalaman yang terus diasah selama menjalankan tugas jurnalistik.


“Tidak ada metode yang tepat kapan mendapat foto yang pas karena kita harus motret sampai akhir. Semuanya harus melewati pengalaman panjang,” pungkasnya.(*/r)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini