-->

Tiga Anakan Buaya Sinyulong Terindikasi Diperdagangkan, Kini Diamankan Petugas

Editor: Redaksi
Sebarkan:

Tiga anakan buaya Sinyulong kini direhabilitasi di Balai Pengelolaan Kelautan (PK) Pontianak. (Foto:Istimewa dok Balai Pengelolaan Kelautan Pontianak)
Pontianak,suaraborneo - Balai Pengelolaan Kelautan (PK) Pontianak merehabilitasi tiga anakan buaya jenis Sinyulong (Tomistoma schlegelii). Setelah sebelumnya ditemukan telurnya oleh nelayan di sungai Dusun Teredu di Desa Anjungan Dalam, Kecamatan Anjungan, Kabupaten Mempawah.


Jenis buaya ini di kenal juga dengan nama  "Baringayong" bahasa  Dayak Kanayatn/Ahe  untuk merujuk pada Buaya Sinyulong yang masing-masing berukuran 33 centimeter.


Satwa dilindungi Penuh itu saat ini tengah menjalani rehabilitasi di Tempat Penampungan Sementara di Kantor Balai Pengelolaan Kelautan Pontianak.

Buaya Sinyulong tersebut ditemukan dari hasil pengambilan telur di sarang kemudian menetas di dalam rumah milik nelayan Dusun Teredu. 

Proses evakuasi berawal dari laporan masyarakat, terkait adanya anakan buaya yang menetas dan diindikasikan hendak diperdagangkan oleh salah satu warga Desa Anjungan Dalam, Kecamatan Anjungan, Kabupaten Mempawah.

 

Saat ini satwa tersebut menjalani proses rehabilitasi sementara di Balai Pengelolaan Kelautan Pontianak, dan akan dilakukan observasi Bersama dokter hewan. “Selama rehabilitasi dalam inkubasi, akan kita pantau perkembangannya..” ungkap Sy. Iwan Taruna Alkadrie Kepala Balai PK Pontianak,Sabtu (29/8).


Iwan menambahkan dengan adanya kejadian menetasnya telur di luar lokasi sarang ini, total jumlah anakan buaya yang dievakuasi dan direhabilitasi di Balai PK Pontianak bertambah menjadi 4 ekor. Dari empat ekor tersebut terdapat 1 ekor anakan buaya muara dengan ukuran 38 centimeter, jelas Iwan. 

Iwan  mengatakan bahwa temuan ini menjadi rekor penemuan baru keberadaan spesies buaya senyulong di lintasan Aliran Sungai Mempawah Hulu. Sebelumnya, data sebaran sementara populasi buaya senyulong di Kalimantan Barat hanya teridentifikasi dan terkonfirmasi secara dominan di wilayah Kabupaten Kapuas Hulu dan Kabupaten Ketapang.  Adanya anakan yang baru menetas menandakan bahwa ekosistem Sungai Mempawah Hulu masih menjadi sarang dan habitat berkembang biak aktif (breeding ground) bagi spesies yang dilindungi penuh ini.

Kepala Balai PK Pontianak ini menyatakan bahwa tim respon cepat  telah berkoordinasi dengan aparat desa setempat untuk penanganan lebih lanjut, pemantauan habitat, dan edukasi keamanan bagi warga sekitar. Masyarakat diimbau untuk tidak menangkap atau melukai satwa terancam punah ini serta segera melaporkan jika menemukan sarang atau individu buaya senyulong di sepanjang aliran sungai.

“Senyulong bukan menyerang, namun bertahan," jelas Iwan. (*/r)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini