-->

Diduga Dampak Air Tercemar, Warga Nanga Gonis Keluhkan Kulit Gatal hingga Mengelupas

Editor: Redaksi
Sebarkan:

 Sari Santika (13), pelajar kelas II SMP, Dusun Nanga Gonis, Desa Merapi, Kecamatan Sekadau Hilir. (tim liputan/*) 
SEKADAU, suaraborneo.id – Keluhan penyakit kulit berupa gatal-gatal dialami sejumlah warga di kawasan Nanga Gonis, Desa Merapi, Kecamatan Sekadau Hilir, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat. Kondisi tersebut semakin menjadi perhatian setelah warga melihat air Sungai Nanga Gonis berubah warna menjadi hitam dan sejumlah ikan ditemukan mati.

Salah seorang warga, Sadiah, mengaku khawatir dengan kondisi kesehatan anaknya yang mengalami gatal-gatal pada bagian tubuh dan tangan sejak sekitar satu hingga dua bulan terakhir.

Menurutnya, keluhan tersebut cukup mengganggu aktivitas anaknya. Bahkan, bagian kulit yang mengalami gatal disebut mengalami iritasi hingga mengelupas.

“Kulit saya gatal-gatal dan terkupas. Sudah berobat tapi masih gatal,” kata Sari Santika (13), pelajar kelas II SMP, sambil menunjukkan bagian tangannya yang mengalami iritasi.

Sadiah mengatakan, tidak hanya anaknya yang mengalami keluhan serupa. Beberapa warga lainnya juga disebut mengalami gatal-gatal, meski tingkat keluhannya berbeda.

“Ada salah satu orang juga yang kena gatal-gatal, tapi tidak parah. Anak saya yang cukup parah,” ujar Sadiah.

Ia menduga keluhan tersebut berkaitan dengan kondisi air sungai yang mengalami perubahan. Warga selama ini masih beraktivitas di sekitar aliran Sungai Nanga Gonis maupun Sungai Kapuas yang terhubung dengan aliran sungai tersebut.

“Kami mandi memang di Sungai Kapuas, tapi terhubung juga dengan Sungai Nanga Gonis yang di hulu. Diduga tercemar limbah,” katanya.

Sadiah mengungkapkan, kondisi Sungai Nanga Gonis dahulu berbeda dengan sekarang. Sebelum adanya aktivitas pabrik kelapa sawit, menurutnya, air sungai masih terlihat bersih dan dapat dimanfaatkan masyarakat.

“Dulu sebelum pabrik kelapa sawit buka, air sungai meskipun kecil masih bersih. Sekarang sungai ini hitam,” ungkapnya.

Pantauan Suaraborneo.id, Selasa (1/9/2026), sejumlah titik aliran Sungai Nanga Gonis tampak berwarna gelap kehitaman. Beberapa ekor ikan juga ditemukan mati dan mengapung, sementara sebagian lainnya sudah dalam kondisi membusuk.

Warga menduga perubahan kondisi air tersebut berkaitan dengan aktivitas pembuangan limbah dari kawasan industri, termasuk dugaan saluran yang berasal dari area pabrik kelapa sawit.

Namun, dugaan tersebut belum dapat dipastikan. Begitu pula dengan keluhan penyakit kulit yang dialami warga, yang belum dapat dinyatakan secara medis sebagai dampak langsung dari kondisi air sungai.

Untuk memastikan penyebabnya, diperlukan pemeriksaan kesehatan terhadap warga yang mengalami keluhan serta pengujian kualitas air secara laboratoris. Pemeriksaan juga penting untuk mengetahui apakah terdapat kandungan pencemar yang berpotensi membahayakan kesehatan masyarakat.

Sadiah berharap kondisi kesehatan anaknya segera membaik dan keluhan gatal-gatal yang dialaminya dapat segera sembuh.

“Kami berharap anak saya bisa sembuh seperti semula dan tidak lagi mengalami gatal-gatal seperti sekarang,” harapnya.

Tim Liputan/*

#limbahsawit #ikanmati #gatalgatal #nangagonis

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini