-->

Pengelolaan Sampah Baik, Menjawab Tantangan Triple Planetary Crisis

Editor: Redaksi
Sebarkan:

Menko bidang pangan Zulkifli Hasan saat berdialog dengan wartawan dalam rangka peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia di  Kota Pontianak. (Foto:Istimewa)
Pontianak, suaraborneo – Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan sampah menjadi bagian dari tiga krisis lingkungan global (Triple Planetary Crisis), yakni perubahan iklim, kehilangan keanekaragaman hayati, serta polusi dan limbah.

Ketiga krisis tersebut tidak berdiri sendiri, dan telah menimbulkan dampak sosial, ekonomi, kesehatan, dan lingkungan yang semakin kompleks. 

"Dalam konteks Indonesia, isu pengelolaan sampah menjadi salah satu titik temu paling nyata dari ketiga krisis tersebut," ungkapnya saat berdialog dengan wartawan dalam rangka peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia di  Kota Pontianak, Jumat (5/6). 

Menurutnya sampah bukan lagi sekadar persoalan kebersihan kota atau pelayanan publik, melainkan telah berkembang menjadi isu strategis yang mempengaruhi pencapaian target pembangunan nasional, komitmen iklim, perlindungan ekosistem, dan kualitas hidup Masyarakat, termasuk dampaknya terhadap ketahanan pangan nasional. 

Data menunjukkan bahwa Indonesia menghasilkan timbulan sampah nasional sekitar ± 60 juta ton per tahun, dengan kontribusi terbesar berasal dari kawasan perkotaan. Dari jumlah tersebut, masih terdapat sebagian yang belum terkelola secara optimal. Kondisi ini menempatkan isu persampahan sebagai salah satu tantangan lingkungan paling mendesak saat ini. 

Sebagai respons atas kondisi tersebut, Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Pangan terus mendorong percepatan pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di sejumlah lokasi prioritas sesuai mandat Perpres Nomor 109 Tahun 2025. Saat ini, terdapat sekitar 30 lokasi PSEL yang direncanakan untuk dikembangkan dalam beberapa tahun ke depan, dengan pendekatan kawasan perkotaan/aglomerasi yang memproduksi sampah di atas 1.000 ton per hari.  

Dalam waktu dekat 3 lokasi PSEL akan dilaksanakan groundbreaking, kemudian menyusul 12 lokasi yang sedang diproses oleh Danantara untuk masuk fase pemilihan mitra dengan target beroperasi pada tahun 2028. 

Program PSEL ini menjadi bagian dari transformasi besar pengelolaan sampah nasional, yang tidak hanya bertujuan mengurangi beban TPA, tetapi juga menghasilkan energi listrik terbarukan serta mendukung pengurangan emisi karbon. 

Selain PSEL, pemerintah juga terus mendorong pengembangan teknologi pengelolaan sampah lainnya seperti Refuse Derived Fuel (RDF), Komposting, Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST), serta teknologi pirolisis, sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan daerah masing-masing.   

Zulhas menambahkan pemerintah berkomitmen untuk terus memperkuat kebijakan yang mendorong transformasi pengelolaan sampah. Pemerintah juga mengajak seluruh pemangku kepentingan baik pemerintah pusat dan daerah, dunia usaha, akademisi, maupun masyarakat untuk memperkuat kolaborasi dalam menjaga lingkungan hidup sebagai bagian dari upaya menjaga masa depan pangan Indonesia. (*/r)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini