Identitas 3 Teroris yang Tewas di Sulteng Tunggu Hasil DNA

Sebarkan:

Baliho Daftar Pencarian Orang (DPO) Polisi yang memuat nama dan foto anggota kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang terpajang di Desa Tongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Sabtu, 12 Desember 2020. (Foto: Yoanes Litha/VOA)

Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah masih menunggu hasil pemeriksaan sampel DNA untuk menentukan identitas tiga teroris yang tewas dalam dua peristiwa terpisah pada 11 dan 17 Juli 2021 di Kabupaten Parigi Moutong.

Kepala Satgas Humas Operasi Madago Raya, Kombes Didik Supranoto, mengatakan Polisi masih menunggu hasil pemeriksaan sampel DNA untuk menentukan identitas tiga teroris yang tewas dalam dua peristiwa penyergapan terpisah. Penyergapan itu dilakukan oleh Satgas Madago Raya di Kabupaten Parigi Moutong pada 11 dan 17 Juli 2021.

Sampel DNA itu diambil dari enam orang keluarga teroris yang berada di Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, serta Poso dan Palu, Sulawesi Tengah. Pemeriksaan sampel dilakukan di laboratorium Pusat Kedokteran dan Kesehatan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Pusdokkes Polri) di Cipinang, Jakarta. 

“Terkait dengan perkembangan akhir tiga teroris yang tertembak saat ini masih dilakukan tes DNA tapi kita yakini ketiga-tiganya adalah DPO (Daftar Pencarian Orang) teroris Poso, tapi identitasnya nanti kita jelaskan pada saat ada hasil dari tes DNA” jelas Kombes Didik Supranoto ditemui VOA di Pos Komando Taktis Satgas Madago Raya di Desa Tokorondo, Kecamatan Poso Pesisir, Sabtu (31/7).

Dengan tewasnya tiga orang teroris itu, maka jumlah anggota kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) kini hanya tersisa enam orang. TNI POLRI masih terus mencari keberadaan mereka melalui operasi Madago Raya di hutan pegunungan Poso, Sigi dan Parigi Moutong. 

Gubernur Sulawesi Tengah, Rusdy Mastura, mengimbau kelompok masyarakat yang menjadi simpatisan kelompok teroris MIT untuk tidak lagi memberikan bantuan, baik dalam bentuk logistik bahan makanan maupun informasi kepada kelompok teroris tersebut.  

“Saya bilang kepada masyarakat setop dukungannya, luruskan pikiran, dengarkanlah apa yang disampaikan oleh pemerintah,” kata Rusdy saat berada di Pos Komando Taktis Satgas Operasi Madago Raya.

Dia juga berharap seluruh anggota kelompok teroris itu mau menyerahkan diri kepada aparat keamanan. 

Dalam kesempatan terpisah, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Boy Rafli Amar mengimbau meskipun pengejaran terus dilakukan, sisa anggota kelompok itu sebaiknya menyerahkan diri kepada aparat keamanan. Ia memastikan aparat akan bertindak baik jika mereka menyerahkan diri.  

“Berbeda dengan berjumpa dengan satuan tugas di lapangan yang tentunya risikonya nyawa. Nyawa di kalangan aparat, nyawa di pihak orang yang dikejar karena mereka bersenjata, tapi kalau itikad baik datang ke Polres, Polsek, Koramil atau Kodim, maka hak-haknya sebagai tersangka akan diperoleh, diberikan dengan sebaik-baiknya dengan memperhatikan martabat manusia” jelas Boy Rafli Amar seusai menyerahkan bantuan sosial bagi 39 mantan narapidana terorisme (napiter) di Desa TIwa’a, Kecamatan Poso Pesisir, Rabu (28/7).

Boy menyebutkan Satgas Madago Raya telah mencapai sejumlah kemajuan berarti untuk menindak kelompok teroris di Poso. Selain melumpuhkan tiga teroris sepanjang Juli, operasi gabungan TNI POLRI itu juga dinilai telah meningkatkan rasa aman masyarakat di sekitar gunung biru yang menjadi basis persembunyian dan pergerakan kelompok itu. 

“Ini yang diperlukan. Masyarakat agar kita tidak ingin lagi menjadi korban kekerasan dari kelompok jaringan teror yang berada di pegunungan ini,” kata Boy.

Ia menekankan perlunya kerja sama semua pihak untuk mencegah generasi muda dari pengaruh paham yang mendukung radikalisme dan terorisme di wilayah itu. [yl/ah]

Sumber : VOA

 

 

 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini