Orangutan yang kemudian diberi nama Sampurna itu diduga mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di habitatnya.
Sampurna pertama kali dilaporkan warga sekitar pukul 06.00 WIB. Saat ditemukan, kondisi orangutan tersebut lemas hingga tidak sadarkan diri. Tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) kemudian mendatangi lokasi untuk melakukan penyelamatan.
Setelah menerima laporan, tim segera melakukan verifikasi ke lokasi dan menemukan Sampurna dalam kondisi tidak sadarkan diri.
Sarbandi, staf SKW I Ketapang, BKSDA Kalimantan Barat, mengatakan pihaknya mendapat laporan ini dan langsung turun ke lapangan.
“Pagi tadi kami menerima informasi dari masyarakat mengenai keberadaan orangutan di sekitar perkebunan. Kami langsung melakukan pengecekan ke lapangan dan menemukan orangutan tersebut dalam kondisi lemas. Diduga, akibat kebakaran hutan dan lahan, orangutan bergeser dari habitatnya dan kemudian berada di area perkebunan,” ujarnya.
Tim gabungan bersama dokter hewan YIARI kemudian melakukan penanganan awal di lokasi. Kondisi Sampurna diduga berkaitan dengan paparan asap pekat yang menyelimuti habitatnya selama beberapa hari terakhir. Sehari sebelumnya, kebakaran juga terjadi cukup parah di sekitar lokasi. Saat proses penyelamatan dilakukan pada Minggu pagi, asap masih terlihat cukup tebal di kawasan tersebut. Untuk memastikan keselamatan tim dan masyarakat serta memudahkan proses evakuasi, Sampurna kemudian dibius. Dokter hewan YIARI memberikan bantuan oksigen dan infus mengingat kondisi pernapasannya yang terganggu. Dari pemeriksaan awal, tidak ditemukan tanda-tanda luka terbuka maupun luka bakar pada tubuh Sampurna. Komara, dokter hewan YIARI, menjelaskan bahwa paparan asap akibat kebakaran hutan dan lahan dapat memberikan dampak serius terhadap kesehatan orangutan, terutama sistem pernapasan. “Asap karhutla mengandung berbagai partikel dan zat yang dapat masuk ke saluran pernapasan dan mengganggu fungsi paru-paru. Pada kondisi paparan yang berat, terutama ketika asap sangat pekat dan berlangsung selama beberapa hari, satwa dapat mengalami gangguan pernapasan dan kekurangan oksigen atau hipoksia. Kondisi Sampurna saat ditemukan mengarah pada dugaan tersebut, tetapi kami masih perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui sejauh mana dampaknya terhadap kondisi kesehatannya,” ujar Komara. Setelah kondisi awalnya ditangani, Sampurna kemudian dievakuasi ke Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan YIARI di Sungai Awan Kiri untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Pemeriksaan akan dilakukan secara menyeluruh untuk mengetahui kondisi kesehatan Sampurna, termasuk kemungkinan dampak paparan asap terhadap paru-paru dan organ dalam lainnya. Hasil pemeriksaan tersebut akan menjadi dasar untuk menentukan penanganan medis selanjutnya. Penyelamatan Sampurna menambah daftar orangutan yang berhasil dievakuasi BKSDA Kalimantan Barat bersama YIARI akibat ancaman kebakaran hutan dan lahan sepanjang Agustus 2026. Sampurna merupakan orangutan ketujuh yang diselamatkan dalam periode tersebut, setelah sebelumnya tim gabungan melakukan penyelamatan terhadap beberapa individu orangutan dari sejumlah desa di Kabupaten Ketapang yang terdampak karhutla.
Argitoe Ranting, Direktur Operasional YIARI, mengatakan bahwa kondisi karhutla yang masih terjadi membuat tim terus meningkatkan kesiapsiagaan, khususnya untuk merespons laporan keberadaan satwa yang terdampak. “Tim medis dan tim penyelamatan YIARI kami siagakan selama 24 jam untuk merespons laporan dan melakukan tindakan penyelamatan apabila sewaktu-waktu dibutuhkan. Kasus Sampurna menunjukkan bahwa dampak karhutla terhadap satwa liar tidak selalu terlihat dalam bentuk luka bakar. Paparan asap juga dapat menimbulkan gangguan kesehatan serius, sehingga setiap laporan mengenai satwa yang ditemukan dalam kondisi lemah atau tidak normal perlu segera ditindaklanjuti,” ujar Argitoe. (*/r)
