Ribuan masyarakat, tokoh adat, pejabat daerah, serta perwakilan berbagai subsuku Dayak hadir memeriahkan pembukaan yang menjadi simbol komitmen bersama dalam menjaga warisan budaya leluhur di tengah derasnya arus modernisasi.
Ketua Panitia PGD XV Sekadau, Bernadus Motar, yang juga sebagai anggota DPRD Kabupaten Sekadau (Partai Gerindra) menegaskan bahwa Gawai Dayak bukan sekadar agenda tahunan yang menampilkan kesenian dan tradisi, melainkan ruang peradaban yang merefleksikan nilai-nilai syukur, persaudaraan, dan penghormatan terhadap Tuhan, alam, serta sesama manusia.
“Gawai Dayak adalah identitas dan kebanggaan masyarakat Dayak. Melalui kegiatan ini, kita mengajak generasi muda untuk mengenal, mencintai, dan mewariskan budaya leluhur agar tetap hidup sepanjang zaman,” ujarnya.
Pelaksanaan PGD XV tahun ini berdasarkan Surat Keputusan Dewan Adat Dayak Kabupaten Sekadau Nomor 01.2.08/III/2026, dengan Subsuku Dayak Benawas dipercaya sebagai tuan rumah. Beragam perlombaan dan atraksi budaya akan mewarnai rangkaian kegiatan, mulai dari pemilihan Bujang dan Dara Gawai, lomba tari kreasi, vokal lagu Dayak, busana kreasi Dayak, melukis perisai, permainan rakyat, ketapel, menyumpit, hingga gasing.
Sementara itu, Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Sekadau, Jeffray Raja Tugam, mengajak seluruh masyarakat menjaga keamanan dan ketertiban selama pelaksanaan Gawai berlangsung.
Menurutnya, keberhasilan Gawai Dayak tidak diukur dari kemewahan acara, melainkan dari semangat kebersamaan dan rasa syukur yang menjadi nilai utama budaya Dayak.
“Jangan sampai pelaksanaan Gawai membebani ekonomi keluarga. Makna syukur jauh lebih penting daripada kemegahan perayaan,” pesannya, yang juga sebagai Wakil Ketua DPRD Kabupaten Sekadau (Partai Demokrat).
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk menjaga nama baik Gawai Dayak yang selama ini mendapat perhatian luas, termasuk dari media nasional, serta menghindari konsumsi minuman beralkohol secara berlebihan.
Bupati Sekadau, Aron, menyampaikan apresiasi kepada Dewan Adat Dayak, panitia, sponsor, seluruh subsuku Dayak, dan masyarakat yang tetap mampu menyelenggarakan Gawai meskipun pemerintah daerah tengah menghadapi tantangan efisiensi anggaran.
Menurut Aron, Gawai Dayak memiliki peran strategis sebagai sarana pelestarian identitas budaya sekaligus media pendidikan karakter bagi generasi muda.
“Warisan budaya harus terus dijaga agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman. Gawai menjadi ruang belajar bagi generasi muda untuk memahami akar budaya mereka,” katanya.
Aron juga memberikan penghargaan kepada Subsuku Dayak Benawas atas dedikasi dan semangat gotong royong dalam mempersiapkan pelaksanaan Gawai serta mengajak masyarakat menjaga kebersihan lingkungan selama kegiatan berlangsung.
Dalam sambutannya, Wakil Gubernur Kalimantan Barat Krisantus Kurniawan menekankan bahwa Gawai Dayak merupakan simbol ketahanan budaya masyarakat Dayak yang harus terus dipertahankan di tengah tantangan globalisasi.
Menurutnya, budaya adalah benteng identitas yang menjadi fondasi pembangunan daerah sekaligus perekat persatuan masyarakat.
“Gawai Dayak bukan hanya seremoni tahunan, tetapi bentuk nyata pelestarian budaya dan ungkapan syukur atas hasil kerja serta kehidupan yang dianugerahkan Tuhan,” ujarnya.
Krisantus juga menyoroti pentingnya masyarakat Dayak terus memperkuat posisi di bidang politik, ekonomi, dan kebudayaan. Ia menilai semakin banyak putra-putri Dayak yang dipercaya menduduki jabatan strategis merupakan bukti kemajuan masyarakat Dayak di Kalimantan Barat.
Di hadapan pelaku usaha dan investor, ia mengingatkan agar investasi yang masuk ke daerah tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat melalui kepatuhan terhadap regulasi, pembayaran pajak, serta kontribusi terhadap pembangunan daerah.
Selain itu, Krisantus mendorong pemanfaatan limbah cangkang kelapa sawit sebagai sumber energi alternatif yang berpotensi meningkatkan nilai ekonomi daerah sekaligus memperkuat ketahanan energi Kalimantan Barat.
Menjelang puncak perayaan Gawai, Wakil Gubernur juga mengingatkan masyarakat agar tidak menyalahgunakan minuman beralkohol.
“Tradisi minum dalam budaya Dayak memiliki nilai adat dan ritual tertentu. Jangan sampai disalahartikan menjadi budaya mabuk yang justru merusak citra masyarakat Dayak,” tegasnya.
Mengakhiri sambutannya, Krisantus mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga kerukunan antarsuku, agama, dan budaya sebagai modal utama pembangunan Kalimantan Barat yang harmonis dan maju.
Dengan mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, Wakil Gubernur Kalimantan Barat secara resmi membuka Pekan Gawai Dayak XV Kabupaten Sekadau Tahun 2026.
Perhelatan budaya ini diharapkan menjadi momentum memperkuat persatuan masyarakat, menjaga kelestarian adat dan budaya Dayak, serta mendorong pembangunan Kabupaten Sekadau yang berbudaya, inklusif, dan berkelanjutan. (**)
