-->

Antara Sepiring Nasi, Perempuan Desa dan Lingkungan Sebuah Hubungan tak Terpisahkan

Editor: Redaksi
Sebarkan:
Teresia Yati perempuan tangguh dari Desa Sekabuk Kecamatan Sadaniang, Kabupaten Mempawah. 
 (Foto:Istimewa)
PEREMPUAN desa memiliki hubungan yang sangat erat dengan lingkungan sekitarnya. Mereka seringkali menjadi pengurus rumah tangga, pengasuh anak, sekaligus juga pengelola sumber daya alam. Bahkan dalam sepiring nasi dapat diketahui bagaimana seorang perempuan berperan.

Bagaimana seorang perempuan dengan semangatnya berupaya mengembangkan potensi dirinya di desanya  berikut ini kisahnya.

*Sebuah Riset FPAR, oleh FAMM didukung Gemawan

KUSMALINA, Suaraborneo.id

DALAM kehidupan sehari-hari, perempuan desa sangat bergantung pada lingkungan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti air, makanan, dan energi. 

Mereka juga memiliki pengetahuan tradisional tentang pengelolaan lingkungan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Demikian juga dalam keseharian seorang Teresia Yati, perempuan berusia 44 tahun dari Dusun Sekabuk, Desa Sekabuk Kecamatan Sadaniang Kabupaten Mempawah ini kesehariannya diisi dengan  bertanam padi di sawah miliknya.

Setiap hari perempuan dengan dua anak ini selalu semangat untuk menuju sawahnya, namun sebelumnya dia tetap melaksanakan tanggungjawabnya sebagai ibu dari dua anak dan seorang istri dengan menyiapkan kebutuhan makanan bagi keluarganya.

"Setiap hari pergi ke sawah, ada saja aktivitas yang dilakukan jika sudah selesai bertanam padi maka akan membersihkan sekitarnya," katanya memulai kisah.

Atau melakukan penyemprotan herbisida yang dilakukan dalam beberapa tahap. Semuanya sudah teratur sesuai dengan jadwalnya.

"Dalam pemupukan kami menggunakan pupuk subsidi dari pemerintah," ungkapnya. Sejauh ini tanaman padi berhasil baik, hanya panen terakhir agak berkurang kemungkinan karena faktor cuaca.

Hampir tidak ada gangguan berarti dalam proses penanaman hingga panen, gangguan hanya datang dari burung pipit dan walang sangit yang bisa diatasi dengan memasang orang-orangan sawah misalnya agar "pengganggu," itu kabur, ujarnya sembari tertawa.

Dalam proses pengeringan padi juga selama ini mengandalkan sinar matahari. Bila cuaca bagus tiga hari proses pengeringan sudah selesai  tapi bila cuaca kurang bagus bisa lebih dari tiga hari.

"Yang jadi kendala saat ini adalah harga gabah yang sering tidak stabil."Harga turun naik terkadang mengendorkan semangat," katanya.

Apa yang membuat Tere sapaan akrabnya ini bahagia menjadi petani? Menurutnya sebagai perempuan juga berkewajiban memberikan pendapatan untuk ekonomi keluarga lebih baik.

Keseharian perempuan di Desa Sekabuk beraktivitas di lahan pertaniannya
Tere tak sendiri, dia juga mengajak beberapa perempuan di desanya untuk mengembangkan diri. Salah satunya dengan membentuk komunitas petani perempuan dengan nama "Perkumpulan Perempuan Rembulan".

Dari perkumpulan ini perempuan di desanya tak hanya bertanam padi tapi juga mengembangkan kolam ikan nila dan lele.

"Ada 20 an perempuan yang ikut dalam pengembangan perkumpulan perempuan ini," ungkapnya.

Suatu ketika saat panen tiba ikan ikan itu dijual ke pembeli yang datang." Kami kadang mempromosikannya melalui media sosial," tuturnya dengan tertawa.

Selain ikan perkumpulan ini juga menanam pisang pada beram jalan di desa mereka, pisang yang ditanam jenis nipah.

"Saya ingin perempuan di desa kami maju bersama secara ilmu mau ekonomi," sebut Tere perempuan asal Kabupaten Sekadau ini.

Menurutnya dia bahagia bisa membantu perempuan lain didesanya, karena dengan perempuan mandiri akan membantu ekonomi keluarga.

Namun dalam perjalanannya bukannya tanpa kendala, Tere mengakui diawal- awal banyak yang turut aktif namun karena kesibukan dan lain-lain ada yang tidak aktif lagi.

Tere mengatakan di Sekabuk ada 13 kelompok tani yang aktif dengan kegiatan masing-masing.

Ditanya soal investor yang masuk ke desanya untuk investasi misalnya perkebunan kelapa sawit disebutkannya belum ada yang besar. Tere menilai masuknya investor perkebunan ke desanya ada dampak baik dan buruknya

Dampak baiknya desa mereka menjadi di kenal dengan adanya perkebunan kelapa sawit misalnya apalagi dilibatkannya warga desa bekerja di perusahaan.

Buruknya lahan jadi milik orang lain. Yang baik adalah dengan kesepakatan lahan tetap menjadi milik sendiri dan hasilnya disepakati berbagi keuntungan.

Sampai saat ini Tere dan keluarganya juga memiliki lahan kebun sawit selain sawah padi.

"Hasil panennya lumayan dengan 0,4 hektare lahan dapat dipanen sekitar 1 ton sekitar 5,3 juta dengan modal awal 3 jutaan," tuturnya.

Tere memiliki 13 hektare lahan sawit dalam satu bulan penghasilan kotor  20 jutaan rupiah. Bibit dan pupuk dibeli dengan harga subsidi dari pemerintah.

Secara pribadi lanjutnya masuknya investor baik hanya saja jangan sampai merusak lingkungan.

Namun kata Tere perubahan lingkungan akibat adanya aktivitas ekstraktif jangan sampai mengancam kehidupan perempuan desa. 

Kehidupan di desa harus dilindungi. Dengan demikian, perempuan desa memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan mempromosikan pembangunan berkelanjutan. 

Dalam kehidupan sehari-hari, perempuan desa sangat bergantung pada lingkungan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti air, makanan, dan energi. 

"Kami  memiliki pengetahuan tradisional tentang pengelolaan lingkungan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi," katanya.

Namun, terkadang perubahan lingkungan dan ekspansi aktivitas telah mengancam kehidupan perempuan desa. 

Perempuan desa memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan mempromosikan pembangunan berkelanjutan. Dapat menjadi agen perubahan yang kuat dalam menghadapi perubahan lingkungan.

Teresia Yati, perempuan berusia 44 tahun dari Dusun Sekabuk, Desa Sekabuk Kecamatan Sadaniang Kabupaten Mempawah.
Dengan perubahan lingkungan yang terjadi sebuah riset yang dilakukan Feminist Participatory Action Research yang dilakukan di Desa Sekabuk dan Desa Suak Barangan, Kecamatan Sadaniang, Kabupaten Mempawah mengungkap akibat banyaknya perubahan lingkungan yang terjadi perempuan diharapkan dapat memahami dampak dari perubahan dan perempuan bukan objek melainkan subjek yang dapat berperan dalam setiap gerak langkahnya untuk menjaga lingkungannya.

Riset FPAR yang mengangkat tema “Advokasi Sepiring Nasi: Membaca Pengetahuan Lokal Perempuan Sadaniang di Tengah Krisis Ekologis dan Isu Ekstraktif” ini difasilitasi oleh Forum Aktivis Perempuan Muda (FAMM Indonesia) dengan dukungan Gemawan, yang selama ini mendampingi masyarakat di kedua desa tersebut.

Perwakilan FAMM Indonesia di Kalimantan Barat, Caroline, menjelaskan bahwa penelitian dilakukan menggunakan pendekatan FPAR yang menempatkan perempuan sebagai subjek utama dalam proses riset.

“Melalui proses FPAR, perempuan diajak merefleksikan pengalaman mereka dan mengenali persoalan yang dihadapi. Dari situ kita bisa melihat bahwa perempuan sebenarnya memiliki pengetahuan dan kekuatan yang besar untuk memperjuangkan kehidupan mereka,” katanya.

Arniyati, salah satu pegiat  sosial gemawan yang melakukan riset FPAR di Desa Sekabuk mengatakan dari sepiring nasi, perempuan Sadaniang membangun ingatan personal dan emosional perempuan dari hal paling sederhana yang setiap hari mereka lakukan saat menyiapkan makanan.

Dari sepiring nasi itu bergulir cerita asal-usul lauk-pauk yang mereka makan, perubahan pangan hingga perubahan lingkungan sekitar mereka. 

Kegiatan ini katanya bertujuan untuk memaparkan temuan riset mengenai pengalaman dan pengetahuan lokal perempuan desa dalam menghadapi perubahan lingkungan serta ekspansi aktivitas ekstraktif.

"Dalam sepiring nasi  kami membaca pengalaman perempuan Sadaniang di tengah krisis ekologis dan ekstratif," katanya lagi.

Ekstrativisme mengubaho hubungan masyarakat dengan sumber penghidupan.

Di Desa Sekabuk masyarakat kesulitan dalam mengelola ladang atau sawah. Bahkan kata Arni sekarang ini hasil panen menurun. Dan ada ketergantungan pada bibit baru dan pupuk kimia.

Sementara di Desa Suak Barangan tanah masih dikelola sistem ladang padi gunung.Tanah berotasi secara alami dan kesuburan tanah relatif terjaga.

Menurut Arni ekstraktivisme meningkatkan beban kerja perempuan.

"Waktu kerja domestik semakin panjang bagi perempuan," ungkapnya.

Ekstrativisme  memperbesar ketimpangan kerja gender karena perempuan menanggung dampak ekologis secara langsung.

Ekstrativisme tidak hanya merusak hutan, tetapi juga mengubah relasi masyarakat dengan tanah dan cara produksi pangan.

Sepiring nasi di meja makan keluarga sekabuk dan suak bukan sekedar makanan. Ia adalah hasil kerja panjang, jejak perubahan lingkungan, cermin ketimpangan, sekaligus simbol daya tahan.

Kepala Dusun Pak Nungkat, Desa Sekabuk, Izhar, mengatakan perubahan sistem pertanian menjadi salah satu hal yang dirasakan masyarakat dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, praktik pertanian modern yang berkembang saat ini membuat petani semakin bergantung pada mesin dan bahan kimia.

“Kalau pertanian modern di tanah yang sudah menjadi kawasan industri, masyarakat harus menggunakan mesin dan ketergantungan pada bahan kimia. Berbeda dengan pertanian lokal dulu yang masih tradisional dan memanfaatkan bahan alami dari hutan,” katanya.

Ia juga menyoroti peran besar perempuan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat desa, terutama dalam aktivitas pertanian dan pengelolaan rumah tangga.

“Perempuan sebenarnya pelaku utama dalam kehidupan sehari-hari. Mereka mengurus anak, bertani, sekaligus membantu mencari penghasilan keluarga. Waktu mereka banyak dihabiskan di ladang, bahkan sejak pagi sampai sore,” ujarnya.

Menurut Izhar, peran perempuan dalam sektor pertanian sering kali belum diakui secara formal dalam kebijakan, padahal mereka memiliki kontribusi besar terhadap ketahanan pangan keluarga.

Dalam kesempatan yang sama, Ageng, pegiat sosial Gemawan yang juga mendampingi masyarakat di Desa Sekabuk dan Suak Barangan, mengatakan perubahan lanskap dan aktivitas ekonomi di desa turut memengaruhi kehidupan perempuan.

Ia mencontohkan kondisi di Desa Suak Barangan yang kini berada di sekitar wilayah perkebunan sawit. Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat harus menyesuaikan pola ekonomi mereka.

“Awalnya saya mengira ekstraktivisme hanya terkait pertambangan, tetapi ternyata lebih luas. Di Suak Barangan, misalnya, kehadiran perusahaan sawit membuat masyarakat perlahan mengubah cara mereka bertani dan memenuhi kebutuhan ekonomi,” katanya.

Ageng mengatakan perubahan tersebut juga berdampak pada pola konsumsi dan kehidupan sehari-hari masyarakat. Jika sebelumnya masyarakat banyak mengandalkan hasil kebun dan sungai, kini sebagian kebutuhan pangan mulai bergantung pada pasar.

“Dulu setelah berladang, masyarakat masih bisa mencari ikan di sungai atau sayur di kebun. Sekarang kebiasaan itu mulai berubah. Bahkan sayur kadang menunggu pedagang yang lewat,” ujarnya.

Meski demikian, Ageng menilai perempuan desa menunjukkan daya tahan yang kuat dalam menghadapi berbagai perubahan tersebut.

“Perempuan sebenarnya memiliki kemampuan beradaptasi yang luar biasa. Ketika kondisi ekonomi berubah, mereka mencoba berbagai cara, termasuk berjualan atau mencari sumber penghasilan lain untuk membantu keluarga,” katanya.

Ageng   mengatakan perubahan kondisi ekologis di Suak Barangan terhadap peran perempuan, sebagai contoh ekspansi sawit yang masif mengakibatkan degradasi seperti sungai yang tercemar ini ditandai dengan dulu saat mereka mudah sekali mencari sayur di hutan, nah saat ini itu jarang ditemui.

Perubahan seperti ini membuat masyarakat mau tidak mau juga berubah pola nya dalam memenuhi kebutuhan isi piring sehari-hari bahkan mengganti dengan makanan instan.(**)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini