Sekadau Kalbar, Suaraborneo.id – Dalam rangkaian Festival Gawai Dayak (PGD) ke-XIV Kabupaten Sekadau tahun 2025, panitia pelaksana menggelar dua perlombaan budaya, yakni Lomba Menganyam Tikar dan Lomba Melukis Perisai, yang berlangsung di Rumah Betang Youth Center, Jalan Panglima Naga, Rabu (23/7/2025).Lomba Menganyam Tikar dan Lomba Melukis Perisai. (Foto:yt)
Kegiatan ini menjadi bentuk pelestarian budaya tradisional Dayak yang sarat akan nilai sejarah dan kearifan lokal. Lomba ini juga menjadi salah satu daya tarik khas dalam festival tahunan masyarakat Dayak di Kabupaten Sekadau.
Koordinator permainan rakyat, Frans Yohanes, mengatakan bahwa dua perlombaan ini diangkat dari tradisi nenek moyang yang masih relevan untuk dikenalkan kepada generasi muda.
“Tikar dan perisai bukan sekadar benda, tetapi simbol kehidupan dan pertahanan masyarakat Dayak zaman dulu. Tikar adalah alas tidur yang selalu digunakan masyarakat kampung, sedangkan perisai atau ‘kelau’ adalah alat pertahanan dalam perang. Tema melukis tahun ini adalah ‘Taji Sempidan’ atau ayam hutan, yang menggambarkan ketangkasan dan semangat juang,” ujar Frans Yohanes.
Sementara itu, Ketua Panitia PGD ke-XIV Kabupaten Sekadau, Radius, yang juga merupakan Kepala BKPSDM Kabupaten Sekadau, dalam konferensi pers beberapa waktu lalu juga menyampaikan bahwa kegiatan lomba tersebut bukan hanya sebagai ajang kompetisi, tetapi sarat nilai budaya dan identitas masyarakat Dayak.
“Melalui lomba menganyam tikar dan melukis perisai ini, kita ingin menanamkan kembali makna dari tradisi dan simbol-simbol budaya yang diwariskan oleh leluhur. Kegiatan ini menjadi ruang edukasi, ekspresi seni, dan penguatan identitas Dayak yang patut kita jaga dan banggakan,” ungkap Radius.
Ia menambahkan bahwa generasi muda perlu terus diberi ruang dan kesempatan untuk mengenal, memahami, dan melestarikan budaya lokal, agar nilai-nilai luhur tersebut tidak hilang ditelan zaman.
“Festival ini bukan hanya perayaan, tapi juga bentuk komitmen kita untuk menjaga warisan budaya Dayak tetap hidup dan berkembang di tengah arus modernisasi,” tegasnya.
Meskipun pelaksanaan lomba kali ini diikuti oleh jumlah peserta yang terbatas, namun nilai budaya yang terkandung dalam kegiatan tersebut tetap menjadi sorotan utama dalam PGD ke-XIV Kabupaten Sekadau tahun 2025. (Tim)