PM Kanada: Temuan 215 Kerangka Anak-Anak Bukan Insiden Terpisah

Sebarkan:

Sepatu-sepatu anak-anak diletakkan di depan Gedung Parlemen, di Ottawa, Ontario, pada 31 Mei 2021, sebagai pengakuan atas penemuan kerangka anak-anak suku asli dari puluhan tahun di sebuah sekolah asrama di Kamloops, British Columbia. (Adrian Wyld / The Canadian Press via AP)

Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau, Senin (31/5), mengatakan penemuan lebih dari 200 kerangka anak-anak yang dikubur di bekas sekolah asrama penduduk asli bukan insiden terpisah.

Trudeau menyampaikan pernyataan itu ketika para pemimpin adat menyerukan pemeriksaan setiap bekas lokasi sekolah asrama dari institusi-institusi yang menampung anak-anak yang diambil dari keluarga di seluruh negara itu.

Kepala Tk'emlups te Secwepemc First Nation di British Columbia, Rosanne Casimir, mengatakan berkat bantuan radar penembus tanah, sisa-sisa kerangka 215 anak-anak itu dapat dikonfirmasi. Sebagian dari anak-anak itu berusia tiga tahun.

Ia menggambarkan temuan itu sebagai “kehilangan yang tidak terbayangkan; yang dibicarakan, tetapi tidak pernah didokumentasikan” di Kamloops Indian Residential School, sekolah semacam itu yang terbesar di Kanada. 

“Sebagai perdana menteri, saya terkejut dengan kebijakan memalukan, dengan mencuri anak-anak penduduk asli dari komunitas mereka. Sayangnya ini bukan pengecualian atau insiden yang terisolasi,” ujar Trudeau.

“Kita tidak akan bersembunyi dari hal ini. Kita harus mengakui kebenaran. Sekolah asrama ini merupakan realita, ini merupakan tragedi di negara kita dan kita harus mengakuinya. Anak-anak diambil dari keluarga mereka, dikembalikan dalam keadaan tidak utuh atau bahkan tidak dikembalikan sama sekali,” ujarnya lirih.

Dipaksa Pindah Agama

Dari abad ke-19 hingga tahun 1970an, lebih dari 150 ribu anak-anak First Nations, sebutan untuk kelompok penduduk asli Kanada, diharuskan mengikuti sekolah-sekolah Kristen yang didanai pemerintah sebagai bagian dari program asimilasi ke dalam masyarakat Kanada.

Mereka dipaksa mengubah keyakinan menjadi Kristen, dan tidak diizinkan berbicara dengan menggunakan bahasa asli mereka. Banyak yang dipukuli dan dilecehkan secara verbal. Diperkirakan sekitar 6.000 orang meninggal dunia.

Pemerintah Kanada pada 2008 menyampaikan permohonan maaf di parlemen dan mengakui bahwa penganiayaan seksual dan fisik di sekolah-sekolah itu rentan terjadi. Banyak siswa ingat ketika mereka dipukuli karena berbicara dalam bahasa asli mereka. Mereka juga kehilangan kontak dengan orang tua dan adat-istiadat mereka.

Para pemimpin suku asli Kanada menyebut pelecehan dan isolasi itu sebagai akar penyebab tingkat kecanduan alkohol dan narkoba di kawasan penampungan yang dilindungi pemerintah federal.

Pihak berwenang berencana mendatangkan pakar-pakar forensik untuk mengidentifikasi dan merepatriasi sisa kerangka anak-anak yang ditemukan terkubur di situs Kamloops itu.

Trudeau mengatakan ia akan berbicara dengan para menterinya tentang hal-hal yang perlu dilakukan pemerintahnya untuk mendukung para penyintas dan masyarakat. 

Bendera di semua gedung federal diturunkan menjadi setengah tiang, tanda berkabung.

Pemimpin oposisi New Democrat, Jagmeet Singh, Senin (31/5), menyerukan debat darurat di parlemen.

“Ini bukan kejutan. Ini realitas sekolah asrama,” ujarnya.

“Dua ratus lima belas (kerangka) anak-anak penduduk asli ditemukan di kuburan massal tanpa tanda. Setiap kali kita berpikir tentang kuburan massal tanpa tanda, kita berpikir tentang negara-negara yang jauh di mana terjadi genosida. Ini bukan negara yang jauh,” imbuhnya.

Sekolah Kamloops beroperasi pada 1890 - 1969 ketika pemerintah federal mengambil alih operasi sekolah itu dari Gereja Katolik dan mengoperasikannya sebagai sekolah hingga ditutup pada 1978.

Uskup Minta Maaf

Uskup Agung Winnipeg dan Presiden Konferensi Wali Gereja Katolik Kanada, Richard Gagnon, mengatakan ingin mengungkapkan “kesedihan terdalam atas kehilangan anak-anak yang menyayat hati di bekas sekolah asrama Kamploops itu.”

Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Nasional mencatat sedikitnya 51 anak meninggal dunia di sekolah asrama itu antara 1951-1963. Komisi itu mengidentifikasi sekitar 3.200 kematian di sekolah-sekolah itu, tetapi mengatakan pada hampir setengah kasus kematian itu, sekolah tidak pernah mencatat penyebab kematian anak-anak. Sebagian meninggal karena penyakit TBC.

Komisi itu mencatat praktik yang berlaku ketika itu adalah tidak mengirim jenazah anak-anak itu ke komunitas mereka. Ditambahkan, pemerintah ingin menekan biaya sehingga peraturan yang memadai tidak pernah dibuat.

“Penemuan ini menodai negara kita. Ini salah satu yang perlu diperbaiki,” ujar anggota parlemen dari partai konservatif Michelle Rempel Garner.

Sepatu-sepatu anak-anak ditempatkan di tugu-tugu peringatan di seluruh Kanada. [em/lt]

Sumber : VOA

 

 

 

 

 

 

 

 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini