Sutarmidji Ikuti Kajian Regional Menjaga Stabilitas Perekonomian Kalbar

Sebarkan:
Sutarmidji (tengah) 
PONTIANAK, suaraborneo.id - Tentang kondisi perekonomian Kalbar kita melihat dari awal sebetulnya saya kurang sependapat dengan pemotongan sampai 50 persen kemudian menjadi 35 persen itu menunjukan kepanikan kita dalam menghadapi pembiayaan covid sehingga dana-dana yang kita potong itu semuanya numplek di  BTT (Belanja Tak Terduga) akibatnya kita tidak bisa melaksanakan pembangunan-pembangunan,” kata Sutarmidji saat mengikuti Desiminasi kajian regional (KFR) Triwulan 1 Tahun 2020 dengan tema "Menjaga Stabilitas Perekonomian Kalbar di Tengah Pandemi Covid-19". Rabu (3/6/2020) di Data Analytic Room Kantor Gubernur Kalbar. 

"Saya konsultasi dengan Pusat katanya boleh dilaksanakan padat karya tapi duit itukan sudah numplek di pos BTT, kalau kita keluarkan dengan padat karya itu menyalahi aturan karena BTT pengeluaran anggarannya harus dengan ketentuan kondisi misalnya ada emergency dan lain sebagainya," jelasnya.

Kemudian kegiatan pembangunan di Provinsi Kalbar itu akan mulai paling cepat sekitar Juli Agustus sehingga pergerakan pertumbuhan ekonomi kita semester pertama itu akan lebih baik di semeter kedua nanti. ujar Sutarmidji

Dikatakannya, Indeks Ekspor Kalbar lebih besar dari pada impor karena kita bukan industri pembentukan bahan baku dari luar sehingga impornya terbatas karena hal tertentu tapi ekspornya tambang sumber daya alam, kemudian sawit dan sebagainya sehingga kondisi pengaruh covid di Kalbar kedepannya tidak begitu besar bahkan kita dengan penanganan seperti ini mudah-mudahan ini masih terus bisa dipertahankan InsyaAllah akan lebih baik,” jelasnya.(Humas/TS).

Editor: Asmuni 
Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini