![]() |
Focus Group Discussion yang digelar FAMM Indonesia didukung lembaga Gemawan diikuti sejumlah jurnalis perempuan di Pontianak.
Pontianak, suaraborneo - FAMM (Forum Aktivis Perempuan Muda) Indonesia didukung oleh Lembaga Gemawan menyelenggarakan focus group discussion diseminasi hasil riset Feminist Participatory Action Research (FPAR).
FPAR ini bertajuk "Advokasi Sepiring Nasi: Pengetahuan Lokal Perempuan Sadaniang di Tengah Krisis Ekologis dan Ekstraktif".Feminist Participatory Action Research
(FPAR) di Desa Sekabuk dan Desa Suak Barangan, Kecamatan Sadaniang, Kabupaten Mempawah telah dilaksanakanpada tanggal 24–25 Januari 2026 lalu.
Arniyati, salah satu pegiat sosial gemawan yang melakukan riset FPAR di Desa Sekabuk mengatakan dari sepiring nasi, perempuan Sadaniang membangun ingatan
personal dan emosional perempuan dari hal paling sederhana yang setiap hari mereka lakukan saat menyiapkan makanan, katanya di depan peserta FGD Jumat (13/3/2026).
Dari sepiring nasi itu bergulir cerita asal-usul lauk-pauk yang mereka makan, perubahan pangan hingga perubahan lingkungan sekitar mereka.
Kegiatan ini katanya bertujuan untuk memaparkan temuan riset mengenai pengalaman dan
pengetahuan lokal perempuan desa dalam menghadapi perubahan lingkungan serta ekspansi aktivitas ekstraktif.
"Dalam sepiring nasi kami membaca pengalaman perempuan Sadaniang di tengah krisis ekologis dan ekstratif," katanya lagi.
Ekstrativisme mengubah hubungan masyarakat dengan sumber penghidupan.Di Desa Sekabuk masyarakat kesulitan dalam mengelola ladang atau sawah. Bahkan kata Arni sekarang ini hasil panen menurun. Dan ada ketergantungan pada bibit baru dan pupuk kimia.
Sementara di Desa Suak Barangan tanah masih dikelola sistem ladang padi gunung.Tanah berotasi secara alami dan kesuburan tanah relatif terjaga.
Menurut Arni ekstraktivisme meningkatkan beban kerja perempuan."Waktu kerja domestik semakin panjang bagi perempuan," ungkapnya.
Ekstrativisme memperbesar ketimpangan kerja gender karena perempuan menanggung dampak ekologis secara langsung.
Ekstrativisme tidak hanya merusak hutan, tetapi juga mengubah relasi masyarakat dengan tanah dan cara produksi pangan.
Sepiring nasi di meja makan keluarga sekabuk dan suak bukan sekedar makanan. Ia adalah hasil kerja panjang, jejak perubahan lingkungan, cermin ketimpangan, sekaligus simbol daya tahan.
Ageng pegiat sosial gemawan pendamping di Desa Suak Barangan dan juga melakukan riset FPAR mengatakan perubahan kondisi ekologis di Suak Barangan terhadap peran perempuan, sebagai contoh ekspansi sawit yang masif mengakibatkan degradasi seperti sungai yang tercemar ini ditandai dengan dulu saat mereka mudah sekali mencari sayur di hutan, nah saat ini itu jarang ditemui.
Perubahan seperti ini membuat masyarakat mau tidak mau juga berubah pola nya dalam memenuhi kebutuhan isi piring sehari-hari bahkan mengganti dengan makanan instan.
Sementara itu Izhar Kepala Dusun Paknungkat Desa Sekabuk mengungkapkan dalam kehidupan sehari-hari sekarang ini petani khususnya perempuan di wilayahnya telah terjadi pergeseran dalam bertanam padi yang dulunya menanam padi lokal dimana benihnya bisa dipakai berulang-ulang kali sekarang tidak lagi.
Banyak perubahan-perubahan yang terjadi misal kebiasaan bertani.Dulunya panen satu atau dua kali saja setahun sekarang bisa tiga atau empat kali panen dalam setahun.
Kenyataan inipun dibenarkan Arni yang menyebutkan hal ini tak bisa dihindari karena adanya teknologi pertanian yang berkembang.(lyn)
