Sekadau Kalbar, Suaraborneo.id – Kecamatan Sekadau Hulu mencatat kemajuan signifikan dalam upaya peningkatan kualitas kesehatan lingkungan. Hingga April 2025, seluruh desa di wilayah ini telah berhasil mencapai status Open Defecation Free (ODF) atau Stop Buang Air Besar Sembarangan, yang merupakan bagian dari Pilar Pertama program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).Plt Camat Sekadau Hulu, Fransisco Wardianus alias Mejeng. (Foto:yt)
Saat diwawancara oleh media, Plt Camat Sekadau Hulu, Fransisco Wardianus atau yang akrab disapa Mejeng, menyampaikan bahwa pihaknya telah menggelar deklarasi ODF tingkat kecamatan pada 26 Juni 2025 lalu, hal ini tentu menandai capaian penting dalam pembangunan sanitasi di daerah tersebut.
“Seluruh desa di Sekadau Hulu telah tuntas ODF sejak April. Dan pada 26 Juni kemarin, kita resmikan ODF di tingkat kecamatan. Ini artinya, baik tingkat desa maupun kecamatan sudah tuntas,” ujarnya. Jumat (11/7/2025).
Mejeng juga menjelaskan, STBM terdiri dari lima pilar, yakni Stop BABS, Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS), Pengelolaan Air Minum Rumah Tangga (PAM-RT), Pengelolaan Sampah Rumah Tangga, serta Pengelolaan Air Limbah Rumah Tangga. Saat ini, sejumlah desa di Sekadau Hulu telah mencapai hingga pilar ketiga.
“Ke depan, kita akan dorong agar semua desa bisa mencapai kelima pilar. Desa-desa yang sudah mencapai tiga pilar akan terus kita pantau dan pertahankan, agar tidak turun kualitasnya,” tegasnya.
"Untuk mendorong dua pilar terakhir yaitu pengelolaan sampah dan air limbah dibutuhkan dukungan infrastruktur dan perubahan perilaku masyarakat karena dua pilar ini merupakan tantangan tersendiri bagi sebagian besar desa," tambahnya.
“Yang cukup berat adalah pengelolaan sampah dan limbah rumah tangga. Tapi kami sudah mulai dari desa-desa di sekitar kota, seperti Desa Rawak Hulu dan Rawak Hilir,” timpalnya.
"Kecamatan Sekadau Hulu sendiri terdiri dari 15 desa dan 61 dusun. Kami dari Pemerintah Kecamatan akan terus melakukan pembinaan dan monitoring ke lapangan, agar capaian STBM tidak hanya sekadar simbolis, tetapi benar-benar terimplementasi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat," pungkasnya. (yt)