Antisipasi Musim Panas dan Karhutla, BPBD Sanggau Gelar Apel Kesiapsiagaan Bencana

Editor: Redaksi
Sebarkan:

BPBD Sanggau saat menggelar Apel Kesiapsiagaan Bencana Kabupaten Sanggau Tahun 2024. [tk]
Sanggau, Kalbar||Suara Borneo - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sanggau mengelar Apel Kesiapsiagaan Bencana Kabupaten Sanggau Tahun 2024 dengan melibatkan semua unsur yang ada di Kabupaten Sanggau. Kegiatan ini bertempat di halaman Tribun Taman Sabang Merah, Rabu (12/6/2024).

Penjabat (Pj) Bupati Sanggau, Suherman, menjelaskan tentang rawan bencana di Kabupaten Sanggau. Suherman juga menyampaikan beberapa harapan kepada masyarakat untuk berpartisipasi dalam kesiapsiagaan bencana tersebut.

"Untuk di Sanggau, gambut cenderung atau relatif sedikit yang lebih banyak itu lahan yang bersifat mineral. Jadi, walaupun misalnya ada terjadi Karhutla (Kebakaran Hutan dan Lahan) berdasarkan pengalaman, ini tidak lama karena lahannya tidak di gambut," ujarnya

Suherman mengatakan bahwa sebagian besar masyarakat Sanggau terdiri dari petani tradisional dan kemudian membuka lahan dengan cara tradisional. Namun lanjut dia, untuk melakukan pembukuan lahan untuk kedepannya harus rantisipasi saja.

"Berdasarkan data dan informasi dari BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) pada bulan Juli nanti diperkirakan panas akan sangat tinggi. Jadi hari ini, kita melakukan Apel Kesiapsiagaan dalam rangka mitigasi bencana dengan melibatkan semua unsur yang ada di Kabupaten Sanggau, terutama kesiapan kita untuk menghadapi bencana Karhutla yang akan terjadi di bulan Juli," kata dia.

"Untuk Sumber Daya Manusia (SDM) di internal kita sangat terbatas oleh karena itu kita melibatkan berbagai unsur diantaranya dari pihak swasta, beberapa perusahaan, kemudian komunitas-komunitas pencinta lingkungan hidup akan libatkan. Dan perkenaan dengan Sapras, kita di BPBD hanya terbatas oleh itu kita melibatkan pihak swasta dan perusahaan untuk wajib mempunyai pemadam api. Kami juga menghimbaukan kepada masyarakat dimohon untuk tidak membakar lahan sembarangan,” pesan Suherman.

“Memang, berdasarkan aturan regulasi dari pemerintah provinsi dimungkinkan untuk membuka lahan dengan catatan untuk kearifan lokal artinya tanaman yang berjenis padi bukan yang berunsur bisnis seperti kebun sawit," imbuhnya

"Jadi, inilah tujuan dari antisipasi jangan sampai kita merusak semua lahan dan nantinya pada saat membakar tidak menjalar ke lahan-lahan yang lainnya," pungkasnya. (tk)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini