Kelola Pelabuhan Feri, BUMDes Sumber Agung juga Berbisnis Listrik dan LPG

Sebarkan:

Kapal Ferry yang menghubungkan antar desa di dua kabupaten yakni Kubu Raya dan Kayong Utara
Kubu Raya Kalbar, Suaraborneo.id-Selain mengelola pelabuhan penyeberangan Ferry yang menghubungkan antar desa di dua kabupaten yakni Kubu Raya dan Kayong Utara, Perangkat Desa Sumber Agung, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya terus mengembangkan bisnis usaha BUMDes.

"BUMDes yang ada di Sumber Agung tidak hanya mengelola sektor pertanian, penjualan gas LPG 3 kilogram, dan pengadaan listrik bagi masyarakat, namun kita juga bergerak di bidang perhubungan," kata Kepala Desa Sumber Agung, Arifin Noor Aziz pada beberapa waktu lalu. 

Menurut dia, pengelolaan pelabuhan Ferry  tersebut tidak hanya bisa mendatangkan pemasukan bagi BUMDes, tetapi juga membantu aktivitas dan peningkatan perekonomian masyarakat.

"Tujuan kita untuk memudahkan akomodasi masyarakat, agar mereka bisa lebih mudah dalam mengangkut hasil bumi dan menjualnya ke Kubu Raya dan Kota Pontianak," tuturnya.

Untuk pengelolaan pelabuhan Ferry tersebut, pihaknya telah menggandeng Dinas Perhubungan Kabupaten Kayong Utara dan Dinas Perhubungan Kabupaten Kubu Raya. 

"Kebetulan Pelabuhan Ferry di Desa Seponti Jaya, Kecamatan Seponti, Kabupaten Kayong Utara yang mana berseberangan dan berbatasan langsung dengan Desa Sumber Agung jadi kita harus melibatkan kabupaten lain untuk memaksimalkan akomodasi ini," ujarnya 

Dalam hal ini, menurut dia, dibutuhkan sinergi dan dorongan semua pihak agar program ini dapat terwujud. Saat ini, akses penyeberangan menggunakan kapal Ferry menjadi skala prioritas dalam menjalin hubungan kerjasama antar kabupaten dan membuka akses masyarakat di lintas kabupaten guna menunjang peningkatan ekonomi masyarakat dan membuka peluang pasar bagi masyarakat.

"Pembangunan daerah perbatasan harus menjadi skala prioritas agar pemerataan pembangunan serta peningkatan ekonomi, sosial masyarakat dapat lebih merata," kata Arifin.

Seperti diketahui, Desa Sumber Agung berusaha memperkuat kawasan ketahanan pangan, ketahanan ekonomi sektor perkebunan, hasil hutan bukan kayu. Sehingga ada produk-produk unggulan desa yang bisa membawa nilai tambah bagi masyarakat.

"Kita juga menggerakkan aset desa yang bisa membawa nilai ekonomi desa dan masyarakat, seperti dermaga penyeberangan, pemanfaatan tanah miliki desa yang akan dijadikan kawasan pangan. Tentunya hal ini sudah kami gambarkan ke dalam rencana tata ruang desa, yang mana di lokasi itu akan ada kawasan pertanian, perkebunan, kawasan lindung dan lain sebagainya," pungkasnya. (eka).

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini