Ditjen PKH-Kementrian Pertanian RI: Potensi Ekonomi Peternakan Babi Sangat Besar

Sebarkan:

Acara sosialisasi pengendalian dan penanggulangan penyakit demam babi Afrika atau African Swine Fever (ASF)

Sintang Kalbar
, Suaraborneo.id - Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Republik Indonesia Dr. Ir. Nasrullah, M. Sc turut hadir pada acara sosialisasi pengendalian dan penanggulangan penyakit demam babi Afrika atau African Swine Fever (ASF) di Balai Praja Kantor Bupati Sintang, Kamis (21/10/2021).


Nasrullah menyampaikan, virus ASF yang hanya menyerang babi ini sudah ada sejak 50 tahun yang lalu dan sampai hari ini vaksin serta obatnya belum ditemukan. 


“ASF ini mirip covid-19. Cuma ini hanya ke hewan ternak babi dengan tingkat kematian yang tinggi yakni 90 persen. Artinya virus ini harus kita seriusi, tidak boleh main-main. Apalagi Kalbar ini urutan ketiga atau keempat jumlah populasi babi terbanyak di Indonesia, maka kalau ternak babi ini hancur, perekonomian rakyat bisa hancur. Dan menanggulangi virus ASF ini kita tidak bisa bekerja sendiri, kita harus kompak,” katanya 


“Ini kan virus, yang bisa berpindah. Dalam berbagai kasus di Indonesia, disebabkan oleh perpindahan ternak dari satu daerah ke daerah yang lain," tambahnya 


Untuk itu, Nasrullah meminta kepada para pedagang babi, agar ikut melakukan pencegahan. Virus ASF ini sambungnya, masuk ke Indonesia pada 2019 yang lalu melalui makanan penumpang pesawat internasional yang diberikan kepada babi. 


"Mohon teman-teman pedagang memperhatikan pergerakan ternak yang dijual. Semua harus kompak dalam menanggulangi,” pesannya 


Hingga kini kata dia, vaksin belum ada. Namun Kementerian Pertanian Republik Indonesia sudah menemukan serum yang berfungsi untuk membuat kekebalan bagi ternak yang sehat. Hanya itu yang bisa mengantisipasi penyebaran virus ASF ini. Serum untuk kekebalan ternak babi ini pertama kalinya dan satu satunya di dunia. Hasil sementara ini menunjukan kontribusinya mencapai 52 persen. Babi yang sehat dan sudah disuntik serum ini, 52 persen tidak akan kena virus ASF ini


“Kemudian cara kita beternak juga harus diubah. Perhatikan sanitasi dan kebersihan tempat peternakan dan areanya harus diperhatikan. Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Sintang harus melakukan pemetaan. Daerah mana yang zona merah dan sebagainya. Sehingga penanganannya mudah. Pisahkan mana ternak babi yang sehat dan sakit. Yang sehat langsung suntikan serum,” pintanya 


“Saat ini Ibu Yessy Melania sudah membawakan serum sebanyak 20 ribu dosis untuk penanggulangan virus ASF di Kalimantan Barat. Ada juga desinfektan 20 liter serta vitamin untuk ternak. Hari ini dan seterusnya, kami menugaskan Tim dari Balai Veteriner Banjarnegara untuk mengawal proses pengendalian virus ASF di Kalimantan Barat. Pemkab Sintang perlu membuat edaran soal peredaran dan pergerakan ternak babi yang diperdagangkan,” terang Nasrullah 


“Pemerintah Pusat sudah menyiapkan dana untu Kredit Usaha Rakyat (KUR) bidang peternakan sebesar 15 Triliun. KUR peternakan sampai pada batas 100 juta tanpa agunan. Dan sampai saat ini KUR peternakan masih 4 Triliun. Kalbar mau minta berapa, silakan diajukan untuk peternakan babi misalnya. Buat skala usaha atau koorporasi untuk usaha peternakan besar. Prospek ekonomi peternakan babi akan menjadi lebih baik di Kalbar karena tidak semua daerah ada. Jadi peternakan babi ini sangat spesifik. Potensi ekonomi pada peternakan babi sangat besar. Nanti kami bantu penguatan pakan dan pelatihan yang terus menerus,” tambahnya 


“Kami siap memberikan informasi soal bibit yang bagus. Tinggalkan cara yang masih tradisional yang tidak bisa keuntungan per ekor babi. Tetapi kalau dalam skala besar dan berbentuk koorporasi keuntungan bisa di hitung. Pedagang juga merasa aman akan suplai yang terjamin. Teman peternak juga aman dari segi pasar,” pungkasnya. **

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini