Diaspora India Cemas dengan Situasi COVID-19 di India

Sebarkan:
Sejumlah partisipan acara penggalangan dana "Cycle to Save Lives" di Kuil Neasden di utara London, kuil Hindu terbesar di Inggris, untuk bantuan mengatasi pandemi COVID-19 di India, 1 Mei 2021.

Diaspora India yang tinggal di luar negeri mengamati dengan putus asa ketika kerabat mereka di tanah air berjuang untuk menyelamatkan diri dari pandemi COVID-19. India kini punya 21, 5 juta kasus serta lebih dari 234 ribu kematian. Para pakar mengatakan, angka-angka itu di bawah yang sebenarnya. 

Meenal Viz adalah seorang dokter perempuan yang tinggal di Inggris. Putrinya, Radhika, lahir Juli tahun lalu ketika Inggris mulai mencabut kuncitara (lockdown) yang menutup toko, sekolah, dan bisnis selama berbulan-bulan.

Sebagian besar keluarga Viz, termasuk kerabat suaminya masih tinggal di India.

Laporan berita setiap hari dari India menggambarkan sistem layanan kesehatan di sana yang tidak mampu mengatasi pandemi di mana puluhan ribu pasien baru terus membanjiri rumah-rumah sakit yang sudah padat dan melampaui kapasitasnya. 

Viz, yang sedang cuti melahirkan, bekerja di sebuah rumah sakit selama pandemi tahun lalu, dan ingat itu merupakan masa yang mengerikan. Kini dia menyaksikan hal yang sama terjadi pada orang-orang yang dicintainya dan tinggal ribuan kilometer dari Inggris.

"Salah satu keponakan saya menikah tahun ini dan kami terpaksa menunda pernikahan itu, juga keponakan lainnya melahirkan beberapa bulan yang lalu di Delhi. Untungnya waktu itu India belum mencapai puncak pandemi. Kami sedemikian khawatirnya, tetapi kami hanya bisa berpesan, kenakan masker kalian dan lakukan pencegahan seperti biasa," tutur Viz.

"Kini ia punya seorang bayi laki-laki yang sehat dan kami sangat senang dengan kesehatan dan kegembiraan seluruh keluarga.”

Namun, Viz tidak yakin perempuan hamil di India kini akan memperoleh perawatan dan perhatian yang mereka butuhkan. Mencari tempat untuk melahirkan, katanya, sangat sulit karena rumah sakit sudah penuh dengan pasien COVID-19.

"Anda tahu, penduduk kami banyak, sementara di masa krisis kesehatan global sekalipun, ada masalah kesehatan lainnya bukan hanya COVID 19. Orang-orang sangat menderita karena sakit kanker, diabetes, dan masalah medis lainnya. Tampaknya kita melupakan hal itu," kata Viz.

Situasi yang dialami India terjadi ketika banyak negara maju menyaksikan, vaksinasi berhasil menurunkan infeksi dan mulai membuka kembali ekonomi mereka.

Pandemi COVID-19 di India merupakan peringatan bagi negara-negara lain dengan sistem kesehatan yang rentan. Selain itu juga merupakan faktor penting dalam usaha global untuk mengakhiri pandemi, karena India juga menjadi produsen vaksin yang besar. Namun, India terpaksa menunda ekspor vaksinnya. 

Selama bulan lalu, 12 dari ke 28 negara bagian India telah mengumumkan pembatasan, tetapi karantina wilayah di seluruh negara masih saja belum diberlakukan.

Ketika terjadi perebakan COVID 19 untuk pertama kalinya, pemerintah memberlakukan lockdown di seluruh negeri. Pakar medis memuji langkah kuncitara pertama itu dan mengatakan paling tidak langkah-langkah itu telah membantu membendung virus itu

Langkah-langkah itu yang berlangsung selama dua bulan, termasuk perintah tinggal di rumah, larangan penerbangan internasional dan domestik, serta penghentian layanan kereta penumpang di sistem kereta India yang sangat luas itu.

Viz terus berhubungan dengan keluarganya lewat percakapan video. Berita dari tanahnya airnya tidaklah menggembirakan, meskipun keponakannya Aman Tuteja menenangkan dirinya dan mengatakan keluarganya mematuhi aturan tinggal dirumah dan bisa mengatasi krisis ini.

“Benar, situasinya sekarang sangat buruk karena orang-orang tidak berhasil memperoleh tempat tidur di rumah sakit, obat-obatan dan oksigen yang diperlukan tidak ada, dan ini menyebabkan kepanikan semakin besar di seluruh negeri," kata Tuteja.

Keluarga Viz berasal dari golongan kelas menengah, tetapi itu bukan jaminan selama pandemi ini.

“Orang yang berkedudukan paling penting sekalipun,tidak bisa memperoleh tempat tidur. Jadi bagaimana seorang dari golongan kelas menengah bisa mendapat tempat tidur untuk dirinya atau keluarganya?" kata Tuteja.

Menurut Tuteja, kenaikan infeksi virus corona ini juga berdampak pada generasi muda, dan dia kini juga kehilangan teman-temannya.

“Keadaannya benar-benar buruk, dan sangat menyedihkan melihat orang-orang dari kelompok usia begitu muda meninggal baru-baru ini, dan benar-benar menyedihkan melihat orang seusia sayameninggal. Sungguh memilukan," ujarnya.

Keprihatinan Viz akan nasib keluarganya di New Delhi semakin besar.

“Keprihatinan saya yang terbesar, dua minggu yang lalu, paman saya terinfeksi, kemudian menularkannya ke seisi rumah dan pada nenek saya yang tinggal bersamanya," tutur Viz.

Neneknya, kata Viz, sudah tidak keluar rumah selama setahun dan sangat depresi selama beberapa bulan terakhir.

"Kami mencoba menelpon, mengontaknya, tetapi dia tidak mau bicara tentang perasaannya karena ini merupakan masa yang sangat sulit. Dan juga, tidak ada yang tahu kapan situasinya bisa kembali normal," kata Viz.

Tanpa menunjukkan tanda-tanda bahwa perebakan terbaru ini akan mereda, para keluarga diaspora India hanya bisa mengamati dari jauh dan menunggu. [jm/my]

Penulis : VOA

 

 

 

 

 

 

 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini