-->

Karhutla Berangsur Mereda, Titik Panas Turun Signifikan

Editor: Redaksi
Sebarkan:

Foto : ilustrasi
PONTIANAK,suaraborneo – Kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) menunjukkan perkembangan yang semakin membaik. Berdasarkan pemantauan terbaru, jumlah titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi mengalami penurunan signifikan dan penanganan di lapangan terus dilakukan untuk memastikan kondisi tetap terkendali.

Hal tersebut disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Barat, Ridwan, saat memberikan keterangan dalam konferensi pers terkait perkembangan penanganan karhutla dan kondisi cuaca di Kantor BPBD Kalbar, Senin (5/10/2026).

Ridwan menjelaskan, berdasarkan data BMKG yang diterima hingga 4 Oktober 2026 pukul 23.59 WIB, terpantau sebanyak 24 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di wilayah Kalimantan Barat. Sebagian besar titik tersebut berada di Kabupaten Ketapang, khususnya wilayah Kendawangan.

“Berdasarkan data yang kami terima dari BMKG, kondisi karhutla di Kalbar sudah mengalami penurunan yang sangat signifikan. Sampai dengan update terakhir, terdapat 24 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi dan sebagian besar berada di Kabupaten Ketapang,” jelas Ridwan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa upaya penanganan karhutla yang dilakukan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat bersama pemerintah kabupaten/kota, TNI, Polri, Manggala Agni dan berbagai pihak lainnya mulai menunjukkan hasil.

“Secara keseluruhan, kondisi karhutla di Kalbar sudah semakin membaik dan terkendali. Bahkan pada minggu lalu, kita sempat berada pada kondisi nol titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi,” ungkapnya.

Meski demikian, BPBD Kalbar mengingatkan agar masyarakat maupun pihak lainnya tidak melakukan pembakaran lahan. Sebab, kondisi yang mulai membaik tersebut dapat kembali memburuk apabila pembakaran masih dilakukan.

“Kami tetap mengimbau masyarakat maupun pihak perusahaan agar tidak melakukan pembakaran. Jangan sampai kerja keras kita selama ini, ketika kondisi sudah sangat baik, kembali lagi ke kondisi seperti sebelumnya,” tegasnya.

Ridwan menambahkan, selain melakukan pemantauan titik panas, BPBD Kalbar juga terus memperhatikan kondisi jarak pandang yang berkaitan dengan keberadaan kabut asap, khususnya di wilayah yang memiliki aktivitas penerbangan.

Di Kabupaten Ketapang, jarak pandang pada pagi hari sempat berada pada kisaran 600 meter. Namun, kondisi tersebut terus membaik seiring berjalannya waktu.

Sementara di Kota Pontianak, jarak pandang pada pagi hari berada di kisaran 1,5 kilometer dan mulai membaik setelah pukul 07.00 WIB. Kondisi tersebut juga tidak memberikan dampak signifikan terhadap aktivitas penerbangan

“Untuk Kota Pontianak, tadi pagi jarak pandang sekitar 1,5 kilometer. Namun, setelah pukul 07.00 WIB kondisinya mulai membaik dan beberapa penerbangan yang sebelumnya dijadwalkan sekitar pukul 06.20 WIB sudah dapat melakukan take-off sebelum pukul 07.00 WIB,” jelasnya.

Terkait masih dirasakannya kabut asap di sejumlah wilayah, Ridwan menjelaskan bahwa kondisi tersebut dipengaruhi oleh arah angin dan masih adanya sumber kebakaran, baik di Kalimantan Barat maupun sejumlah wilayah Kalimantan lainnya.

“Berdasarkan data yang kami pantau, arah angin saat ini masih bergerak menuju wilayah Kalimantan Barat, termasuk ke Kota Pontianak. Di Kalbar sendiri masih ada sumber kebakaran meskipun jumlahnya tidak besar,” katanya.

Ia juga menegaskan, kondisi tersebut tidak dapat langsung disimpulkan sebagai kiriman asap dari provinsi tertentu karena pergerakan angin dan sumber asap sangat dinamis.

“Kami tidak menyebutkan secara spesifik bahwa kabut asap ini berasal dari satu daerah tertentu. Yang kami sampaikan berdasarkan data adalah arah angin saat ini bergerak dari wilayah selatan menuju utara dan Kalbar sendiri masih memiliki sumber kebakaran, sementara wilayah Kalimantan lainnya juga masih mengalami kondisi serupa,” terangnya.

Posisi geografis Kalimantan Barat yang berada di sekitar garis khatulistiwa juga membuat pergerakan angin di wilayah tertentu relatif lebih lambat.

“Khusus Kota Pontianak yang berada di wilayah ekuator, pergerakan angin memang relatif lebih lambat. Karena itu, kondisi udara dan kabut asap perlu terus kita pantau,” tambahnya.

Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat masih memperpanjang status tanggap darurat karhutla selama 14 hari ke depan. Keputusan tersebut dilakukan sebagai langkah kesiapsiagaan mengingat masih terdapat beberapa kabupaten yang berada dalam status tanggap serta masih ditemukannya kebakaran di sejumlah wilayah.

“Untuk status tanggap darurat di Provinsi Kalbar, hari ini masih kami perpanjang selama 14 hari ke depan,” ujarnya.

Ia menyebutkan, beberapa daerah seperti Kayong Utara, Melawi dan Mempawah masih berada dalam status tanggap.

“Ada beberapa kabupaten yang masih berstatus tanggap. Selain itu, faktanya di wilayah Kalbar masih terdapat kebakaran. Karena itu, status tanggap darurat tetap kami pertahankan sebagai bentuk kesiapsiagaan,” ucapnya.

Ia menilai, status tersebut akan terus dievaluasi berdasarkan perkembangan kondisi di lapangan.

“Kami berharap kondisi semakin membaik dan tidak terjadi peningkatan kembali. Kalau melihat trennya, saat ini memang sudah semakin menurun,” ujarnya.

Dalam penanganan karhutla, BPBD Kalbar tetap mengerahkan Satgas Udara dan Satgas Darat. Satgas Udara didukung sejumlah helikopter untuk melakukan patroli dan pemadaman melalui water bombing di wilayah yang masih memiliki potensi kebakaran.

“Untuk penanganan karhutla, kami tetap membagi kekuatan menjadi dua, yaitu Satgas Udara dan Satgas Darat. Keduanya terus bekerja dan tidak akan kami kendurkan sampai kondisi benar-benar aman,” tegasnya.

Saat ini, dua helikopter digunakan untuk melakukan patroli di sejumlah wilayah Kalbar. Satu helikopter difokuskan memantau wilayah Ketapang dan Kayong Utara, sementara helikopter lainnya melakukan patroli di wilayah Kubu Raya, Landak, Sambas, Singkawang dan Mempawah.

Selain itu, base operasi di Ketapang dan Sintang juga terus menjalankan patroli serta water bombing sesuai kondisi wilayah masing-masing.

“Untuk wilayah Ketapang, kami masih melakukan patroli sekaligus water bombing apabila ditemukan titik yang membutuhkan penanganan. Begitu juga di Sintang dan sekitarnya, termasuk wilayah Melawi,” jelasnya.

Sementara Satgas Darat terus melakukan pemeriksaan lapangan atau ground check serta pemadaman dan pendinginan terhadap lokasi yang masih ditemukan terbakar.

“Kami berkolaborasi dengan BPBD kabupaten/kota, Manggala Agni, Polda, Kodam dan pihak terkait lainnya. Tim di lapangan terus melakukan ground check, pemadaman dan pendinginan,” ungkapnya.

Selain fokus terhadap karhutla, Pemprov Kalbar juga mulai melakukan langkah antisipasi menghadapi potensi peningkatan curah hujan. Berdasarkan informasi BMKG, memasuki pertengahan Oktober hingga beberapa bulan ke depan, Kalbar berpotensi mengalami peningkatan curah hujan.

“Kita tidak hanya fokus pada karhutla. Berdasarkan informasi BMKG, mulai pertengahan Oktober kita akan menghadapi curah hujan yang cukup tinggi dan puncak hujan diperkirakan mulai terjadi pada periode berikutnya,” kata Ridwan.

Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah karena peningkatan curah hujan dapat memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor dan angin kencang atau puting beliung.

“Karena itu, kita mulai melakukan antisipasi secara dini. Potensi banjir, tanah longsor maupun puting beliung harus kita siapkan penanganannya sejak sekarang,” ujarnya.

Untuk kondisi cuaca pada 5 Oktober, potensi hujan ringan hingga sedang masih terdapat di sejumlah wilayah seperti Sambas, Kapuas Hulu, Sanggau dan Sintang. Sementara itu, potensi pertumbuhan awan di sebagian besar wilayah Kalimantan Barat dinilai cukup baik.

Kondisi tersebut diharapkan dapat membantu proses pembasahan lahan, khususnya di wilayah yang masih terdapat titik panas.

“Kami berharap potensi pertumbuhan awan yang cukup baik ini dapat mendukung pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC), terutama di Kabupaten Ketapang, sehingga wilayah yang masih memiliki titik panas dapat mengalami hujan dan pembasahan,” jelasnya.

Ridwan memastikan, penanganan karhutla di Kalbar akan terus dilakukan dengan mengedepankan kesiapsiagaan dan kerja sama lintas sektor.

“Kami ingin memastikan masyarakat bahwa Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat bersama seluruh pihak terkait tetap serius menangani karhutla. Kondisinya memang semakin membaik, tetapi bukan berarti kita boleh lengah,” pungkasnya.

Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk ikut menjaga kondisi Kalimantan Barat agar tetap aman dari karhutla.

“Mari bersama-sama menjaga Kalimantan Barat. Jangan membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Kondisi yang sudah semakin baik ini harus kita pertahankan,” tutupnya.(*/r)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini