Kegiatan diikuti 79 peserta yang terdiri dari 9 kawan Disabilitas muda, dengan ragam disabilitas yang ikut diantaranya terdiri dari tuli, daksa atau fisik, rungu, Netra, Inteletual.
Dalam kesempatan tersebut juga dihadiri Gubernur Kalbar yang diwakili Kepala Biro Administrasi Pimpinan Sekretariat Daerah Provinsi Kalbar, Sefpri Kurniadi, dan juga di dihadiri Ketua Umum HWDI Pusat, Revita Alvi, mitra pembangunan The Asia Foundation, Siti Adijatiningsih.
Dalam sambutan Gubernur yang dibacakan Sefpri Kurniadi bahwa pemerintah Provinsi Kalbar menyampaikan apresiasi dan rasa bangga atas semangat, inisiatif serta kerja keras HWDI dan The Asian Foundation melalui program In-Climate (Inclusive Climate Action).
“Setiap manusia diciptakan dengan potensi luar biasa yang beragam. Penyandang disabilitas bukan sekedar kelompok penerima manfaat, melainkan subjek dan aktor penting pembangunan yang memiliki peran, pengalaman serta kapasitas kepemimpinan yang sangat bernilai. Dan pemerintah Provinsi Kalbar terus berkomitmen mendorong dan menjamin kesetaraan disemua sektor, termasuk dalam upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim,” katanya.
Dan pesannya, untuk seluruh penyandang disabilitas untuk tetap semangat, terus mengasah potensi diri, percaya pada kemampuan yang dimiliki dan jangan ragu untuk tampil mengambil peran kepemimpinan.
“Suara dan kontribusi anda sekalian sangat berarti bagi kemajuan daerah ini,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut Ketua Himpunan Wanita Disabiltas Indonesia (HWDI) Kalbar, Linda Fardini menyampaikan bahwa tujuan kegiatan Lokakarya Kepemimpinan Perempuan ini untuk meningkatkan pemahaman peserta mengenai konsep disabilitas berbasis hak asasi manusia serta prinsip-prinsip inklusi.
“Juga untuk meningkatkan pemahaman peserta mengenai hubungan antara krisis iklim, gender, dan disabilitas serta meningkatkan pemahaman peserta mengenai penerapan Akomodasi yang Layak dalam penyelenggaraan kegiatan maupun pelayanan public dan mendorong komitmen peserta untuk mengintegrasikan perspektif disabilitas dalam kebijakan dan program aksi iklim di institusinya,” jelasnya.
Menurutnya, melalui Program IN-CLIMATE (Inclusive Climate Action) yang dilaksanakan oleh Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) dengan dukungan The Asia Foundation (TAF), disusun Modul Pengembangan Kapasitas Disabilitas Inklusif dalam Aksi Iklim.
Dimana Modul ini dikembangkan melalui proses kajian, penyusunan materi, konsultasi, serta pelatihan bagi calon fasilitator dari berbagai ragam disabilitas.
Sebagai tindak lanjut dari proses tersebut, HWDI menyelenggarakan Pelatihan Sensitisasi Disabilitas Inklusif dalam Aksi Iklim bagi Pemangku Kepentingan sebagai media diseminasi modul sekaligus penguatan kapasitas berbagai pihak yang terlibat dalam penyusunan maupun pelaksanaan kebijakan dan program aksi iklim.
Melalui pelatihan ini diharapkan para peserta tidak hanya memahami konsep disabilitas dan inklusi dalam aksi iklim, tetapi juga mampu mengidentifikasi hambatan yang dihadapi penyandang disabilitas, menyediakan akomodasi yang layak, menerapkan etika interaksi yang
tepat, serta mengintegrasikan perspektif disabilitas dalam kebijakan, program, maupun kegiatan aksi iklim di institusi masing-masing. (*/r,)
