-->

Kabut Asap Makin Pekat di Sekadau, Warga Keluhkan Mata Perih dan Jarak Pandang Terbatas

Editor: Redaksi
Sebarkan:

Kabut asap tebal menyelimuti Jalan Merdeka Timur, Sekadau, Senin (31/8/2026), mengganggu jarak pandang dan aktivitas warga. (red)
SEKADAU, SUARABORNEO – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti sejumlah wilayah di Kabupaten Sekadau. Kondisi tersebut dirasakan warga, terutama pada pagi hingga menjelang siang hari.

Pantauan di Jalan Merdeka Timur, Desa Sungai Ringin, Kecamatan Sekadau Hilir, Senin (31/8/2026), kabut asap terlihat cukup tebal dan mulai mengganggu jarak pandang pengguna jalan.

Sejumlah warga juga mengeluhkan kondisi udara yang membuat mata terasa perih dan menyengat. Penggunaan masker pun tetap dilakukan sebagai upaya mengurangi dampak paparan asap.

“Dari pagi hingga sekitar pukul 11.30 WIB, asap masih tebal dan mata terasa menyengat. Meskipun sudah menggunakan masker, asap masih terasa,” ujar Ana, salah seorang warga Sekadau.

Menurut warga, kondisi kabut asap dalam beberapa hari terakhir cenderung semakin pekat. Situasi tersebut tidak hanya berdampak terhadap kesehatan, tetapi juga menambah kesulitan masyarakat yang kini menghadapi musim kemarau berkepanjangan.

Warga menyebut kemarau telah berlangsung sekitar dua bulan. Meski hujan sesekali turun, intensitasnya dinilai belum cukup untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat.

“Saat ini kemarau sudah kurang lebih dua bulan. Hujan memang ada, tetapi tidak lama. Air hujan yang ditampung hanya bertahan sebentar,” katanya.

Selain kabut asap, warga juga mulai mengeluhkan berkurangnya ketersediaan air bersih. Sejumlah sungai kecil dilaporkan mulai mengering, sementara sebagian sumber air yang masih tersedia dinilai tidak layak untuk dikonsumsi.

Menghadapi kondisi tersebut, warga berharap pemerintah dan pihak terkait dapat meningkatkan perhatian terhadap kebutuhan masyarakat, termasuk menyediakan posko kesehatan di wilayah yang terdampak kabut asap.

Posko kesehatan dinilai penting untuk memberikan pelayanan dan penanganan awal bagi masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap karhutla.

Paparan kabut asap dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama keluhan pada saluran pernapasan dan iritasi mata. Karena itu, masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila tidak diperlukan serta menggunakan masker saat harus beraktivitas di tengah kondisi udara berasap. (red)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini